Cerpen Karya: Ronaldus Heldaganas
Sore menyapa di sudut kota seribu Gereja. Panas dikubur oleh hadirnya angin di kota dingin itu.
Di bilik tirai jendela aku menatap wajah seorang dara. Wajah yang selalu saja memberi warna di setiap panorama senja. Ia selalu setia menemani jendela dan pintu rumahnya.
Di bilik tirai itu terlihat cangkir bermotif batik, sangat bening untuk sisi luarnya. Ia setia dengan bibirmu, tak pernah mengadu dengan segala sesuatunya. Kau pun dengan sungguh mencicipinya bahkan ia tak luput dari ciuman bibirmu itu.
Sore yang tadinya bersama senja, kini ditelan malam penuh kegelapan. Wajahmu pun perlahan sayup, menghilang dari tirai rumahmu. Dan mungkin itu hanya pintasan khayalku saja, karena rumah kita berjauhan.
Aku hanya berharap kita dapat menyeberangi malam bersama mimpi-mimpinya.
Di pagi yang cerah, di gedung lantai 5 kampus Unika. Terlihat engkau sedang duduk bersantai bersama kawanmu. Suara-suara didendangkan di sana, canda tawa kalian mengisi kekosongan waktu.
Tak sungkan aku memberanikan diri menyapamu, ditengah keriangan keramaian bercampur kebahagiaan.
“Hay… Nes!”
“Hay… Kak Onald!”
“Kalian tidak kuliah?”
“Kuliah kak, hanya masih jam istirahat!”
“Oh… Baiklah, saya pulang duluan ya!”









