Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
Move On. Ini nasihat yang tepat buat Demokrat. Dinamika politik mesti dihadapi dengan sikap yang matang. Bukan dengan memelihara kemarahan.
Agus Harimurti Yudhoyono atau populer orang menyebut AHY, adalah anak muda dan kader masa depan Demokrat. Smart, pembawaannya tenang dan punya kharisma. Peluangnya cukup besar untuk menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Meski popularitasnya ditopang oleh ayahnya yang seorang presiden, tapi ia mampu membawa diri untuk tampil di panggung politik secara elegan.
Jangan rusak nama AHY dengan kemarahan yang tidak perlu. Selain nama AHY yang akan rusak, elektabilitas partai juga akan makin hancur. Berhenti komentari Anies dan koalisinya. Ini langkah yang tidak taktis.
Demokrat mengusung narasi perubahan. Klop dengan Anies. Jadilah “Koalisi Perubahan”. Takdir belum menyandingkan keduanya. Jangan ditutup kesempatannya. Masih ada pilpres 2029. AHY butuh rekam jejak. AHY butuh pengalaman dengan mengambil peran tertentu di pemerintahan. Lima tahun itu cukup.
Dengan Anies, AHY punya titik temu di “semangat perubahan”. Spirit ini tidak cocok jika Demokrat bergandengan dengan Prabowo maupun Ganjar. Kedua kandidat ini tidak memilih “perubahan” sebagai narasi kempanyenya. Perubahan bukan menjadi program mereka. Jadi, tidak pas jika Demokrat yang kuat narasi perubahannya kemudian bergabung dengan Prabowo atau Ganjar. Apa kata dunia?









