Ketika Kekuasaan Tidak Lagi Dibela: Pelajaran dari Venezuela

oleh -5 Dilihat

Oleh: Pius Lustrilanang, Politisi

Runtuhnya kekuasaan sering dibayangkan sebagai peristiwa dramatis: kudeta berdarah, tembakan di jalanan, atau demonstrasi besar yang mengguncang istana. Venezuela justru memperlihatkan kebalikannya. Apa yang terjadi di sana bukanlah kejatuhan yang bising, melainkan kejatuhan yang sunyi—dan justru karena itu jauh lebih menentukan sebagai pelajaran politik.

Pertanyaan yang segera muncul adalah pertanyaan paling masuk akal: bagaimana mungkin seorang presiden, dengan pengamanan berlapis dan aparatus negara yang lengkap, bisa ditangkap tanpa perlawanan berarti? Jawabannya tidak terletak pada kecanggihan operasi eksternal, melainkan pada sesuatu yang lebih mendasar. Kekuasaan itu tidak lagi dibela dari dalam.

Dalam politik modern, senjata dan pasukan bukan lagi faktor penentu utama. Yang menentukan adalah loyalitas. Negara bisa memiliki militer besar, intelijen canggih, dan pengawal elite, tetapi semua itu kehilangan makna ketika para penjaganya berhenti percaya bahwa kekuasaan tersebut masih layak dipertahankan. Di sinilah relevan tesis The Logic of Political Survival karya Bruce Bueno de Mesquita dan Alastair Smith, yang menegaskan bahwa kelangsungan kekuasaan tidak ditentukan oleh rakyat banyak, melainkan oleh kelompok penentu (winning coalition) yang memilih apakah seorang pemimpin masih layak dipertahankan. Ketika koalisi ini menarik dukungan, kekuasaan runtuh bahkan tanpa perlawanan terbuka.

No More Posts Available.

No more pages to load.