Oleh: Dino Umahuk, Jurnalis, sastrawan nasional, dan pekerja perdamaian
Di tanah yang baru saja dilalui amarah, kata-kata seharusnya datang seperti air—menyiram, menenangkan, dan perlahan meredakan bara. Namun yang terdengar di ruang publik justru serangkaian pertanyaan: tajam, logis, dan mungkin benar—tetapi terasa jauh dari hangatnya pelukan bagi mereka yang masih menggenggam luka.
Ucapan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, di tengah sisa-sisa ketegangan Sibenpopo–Banemo, memperlihatkan satu hal yang kerap luput dalam kepemimpinan di masa krisis: bahwa manusia tidak hanya hidup dari kebenaran, tetapi juga dari rasa ingin dipahami.
“Pergi serang sana karena apa? Ada bukti atau hanya karena katanya?”
Kalimat itu, bagi sebagian orang, mungkin terdengar sebagai ajakan untuk kembali pada akal sehat. Namun bagi mereka yang baru saja menyaksikan saudaranya meregang nyawa, rumah terbakar, mendengar jerit di malam hari, atau kehilangan rasa aman yang selama ini dianggap biasa—pertanyaan semacam itu bisa terasa seperti jarak. Seperti suara dari tempat yang tinggi, yang belum sepenuhnya menjejak tanah tempat luka itu berdenyut.
Ketika Logika Tak Sempat Menyentuh Luka
Dalam teori perdamaian, Johan Galtung pernah mengingatkan bahwa damai bukan sekadar berhentinya kekerasan. Damai adalah hadirnya kembali rasa aman, keadilan, dan hubungan yang utuh. Damai adalah ketika seseorang bisa tidur tanpa rasa takut, ketika anak-anak bisa bermain tanpa bayang-bayang dendam yang diwariskan diam-diam.









