Lelaki yang Karam dalam Ingatan
tak ada yang datang
waktu pun abai
di balik pintu, doa pecah
dan tak sempat menjadi suara
aku tenggelam
di sisa detak yang usai—
cinta yang dulu utuh
kini tinggal serpih yang lupa bentuk
kau menyebut angin
seolah ia tahu asal retak
di atas meja, gelas setengah
masih menyimpan jejak yang tak kembali
aku menyebut hilang
seperti laut menyebut asin
ombak mengulang namamu—
pelan, hingga asing
bulan jatuh
dan pecah di karang yang dingin
wajahmu larut
di langit yang rawang
waktu membeku
bukan lagi kenangan
melainkan ruang
yang terus menolak ditinggalkan
jejakmu hanyut—
arus tanpa muara
aku masih bernapas
tapi cinta telah selesai lebih dulu
namamu larut
di dasar yang menutup alamat kembali
doa karam
bahkan sebelum sempat bernama sepi
jika abadi hanya milik yang hilang
biarlah aku tinggal sebagai tenggelam—
agar kau tetap utuh
di ingatan yang tak pernah pulang
Ambon, 1 April 2026
=========
Sauh Terakhir
jangan biarkan aku sebatang arang
di laut retak, takdir karam, aku hilang
perahu nasib tenggelam di celah rawan
arah pulang luruh, sunyi tertahan
peta makna karam di palung bisu
kemudi patah, hilang arah tuju
arus berulang, getir yang lama
menyeretku pelan ke hampa yang sama
aku hanyut tanpa muara—terkatung
detik pecah di karang sepi—terhuyung
masa silam luka, purba dan kelam
waktu berputar di raga yang diam









