Porostimur.com, Melbourne – Seorang aktivis perempuan asal Australia, Juliet Lamont, mengaku mengalami kekerasan fisik dan pelecehan seksual saat ditahan pasukan Israel usai misi kemanusiaan menuju Gaza.
Lamont merupakan bagian dari misi Global Sumud Flotilla (GSF), yang membawa ratusan aktivis dari berbagai negara untuk menantang blokade laut Israel terhadap Gaza dan menyalurkan bantuan kemanusiaan.
Menurut Lamont, insiden itu terjadi setelah armada mereka dicegat oleh pasukan Israel di perairan internasional sekitar 18 Mei 2026. Ia kemudian ditahan di atas kapal yang disebutnya sebagai “kapal penjara”.
Mengaku Dianiaya dan Dilecehkan
Saat tiba di Istanbul pekan lalu, Lamont mengungkapkan pengalaman yang ia sebut sebagai kekerasan sistematis selama penahanan. Ia mengaku dipukuli dan dilecehkan oleh lima pria saat berada di dalam kontainer kapal.
“Saya diikat dengan kabel, tangan di belakang punggung, dan diborgol di pergelangan kaki. Saya dilempar ke dek kapal, diinjak, dan dipukul dengan pistol di bagian belakang kepala,” ungkapnya.
Ia juga menyebut mengalami pelecehan seksual serta perlakuan tidak manusiawi lainnya selama berada dalam tahanan.
Lamont menilai tindakan tersebut sebagai “kampanye kekerasan yang terencana” untuk menekan gerakan aktivisme internasional terkait isu Palestina.









