Kepada sesama pengikut jalan Tuhan di Tanah Papua, mari sama-sama kita berintrospeksi ( self portrait, ibda’ bi nafsik), tentang bagaimana sebaiknya kita saling memahami ( mutual understanding) tentang masalah-masalah yang menjadi social concern kita. Hal ini adalah keutuhan kita bersama, tentang pentingnya penyampaian pesan Kitab Suci sesuai dengan rasa keberagamaan manusia Papua.
Misi Kitab Suci adalah misi universal, tidak tergantung pada ruang dan waktu. Kitab Suci senantiasa menghormati kelokalan umatnya, di lahan mana benih-benih profetik harus ditaburi. Di beberapa tempat, para pengkhutbah menggunakan ayat-ayat suci mengancam jama’ahnya, seolah-olah dialah kebenaran plus Tuhan. Jubah panjang, berjenggot, menyalami sesama dengan mata (agak) memelas, seolah-olah ingin mengatakan kepada orang lain bahwa inilah kesalehan pribadi ( personal piety) yang dipunyai, sementara dalam praktek kehidupannya tidak tercermin kesalehan sosial ( social piety) yang semestinya. Di lain tempat para pengkhotbah agung mencoba menarik garis lurus antara perintah Kitab Suci dan tujuan-tujuan politis tertentu, seolah-olah mereka telah bertemu Roh Kudus dan menerima perintah Nubuwat dari Tuhan. Tidak sedikit pandangan agama yang mereka ajarkan kepada umatnya adalah pandangan sektarian, fanatisme ekstrim dan memonopoli kebenaran. Terkadang fanatisme itu ditunjukkan dengan sikap keberagamaan yang menggebu-gebu dan mengabaikan asas-asas kepatutan.








