Agama dan Perdamaian di Tanah Papua

oleh -169 views
Link Banner

Oleh: Moksen SirfefaPeminat Sejarah dan Peradaban.

“Seandainya agama yang datang di Tanah Papua hanya membawa kekacauan dan disharmoni, sebaiknya manusia Papua tidak perlu beragama” (Imajiner)

DI ABAD Pertengahan Eropa urusan agama dan urusan politik berlangsung terpisah gegara fatwa “berilah kepada raja apa yang menjadi haknya dan berilah kepada Tuhan apa yang menjadi hak-Nya”, ditafsirkan sesuai keinginan penguasa saat itu. Mereka membuat garis hipostatis bahwa agama tidak boleh dicampuradukkan dengan urusan negara maupun sebaliknya. Inilah awal mula sekularisme di dunia Barat. Pandangan ini menganut paham individualistik yang memandang spritualitas manusia bersifat personal dan hanya individu dan Tuhannya yang mengetahui sejauhmana intensitas hubungan antara keduanya. Pandangan ini secara tidak langsung memangkas fungsi sosial agama, seolah-olah agama bukan milik sosial tapi milik individu ( sophist) semata. Kalau demikian, mengapa Tuhan mengutus para Nabi datang mengajak sekian banyak kumpulan manusia untuk mengikuti jalan-Nya? Mengapa Tuhan tidak mengutus setiap manusia satu Nabi saja ( one man one Messenger?), sehingga sejauhmana jumlah populasi manusia di muka bumi, sejauh itu pula jumlah para Nabi yang mengiringinya! Betapa padatnya planet mungil ini dijejali manusia dan para pengawal moral yang bergelar Nabi itu. Kiranya pandangan yang mengatakan bahwa agama adalah masalah privat dan bukan masalah publik sungguh akan memperoleh jawabannya dalam kemusykilan sekaligus kemustahilan ini. Oleh sebab itu, menjadikan agama tidak sekedar menjadi masalah privat tapi juga publik membawa konsekuensi pada kehati-hatian kita untuk melakukan praktek kehidupan pragmatis dalam bingkai misi agama.

Misi Profetik dan Keteladanan

Para pendakwah agama (mubaligh, zendinger, missioner) sangat mengetahui struktur dan watak sosiologis manusia Papua, sehingga proses da’wah maupun evangelisasi berlangsung secara damai ( penetration pacifique). Tetapi pada perkembangannya, kehadiran para pendakwah agama di Tanah Papua sering kurang memahami watak kebudayaan penduduk lokal Tanah Papua yang secara kodrati menjadi bagian tak terpisahkan dengan kehidupannya. Nilai-nilai adat berupa toleransi, kepemimpinan, aturan pergaulan, pembagian kesempatan ekonomi, pelayanan kesejahteraan warga, pegangan religius yang terungkap dalam pelbagai seremoni adat, biasanya kurang dihargai. Para pendakwah agama ini terlihat hidup dalam kecukupan dan terkesan eksklusif di tengah-tengah keterasingan umatnya. Metode misi (dakwah) yang dibawanya berlawanan dengan situasi dan kondisi sosial-lokalnya. Menjadikan agama sebagai lahan bisnis pribadi. Pengajaran Kitab Suci dan cara beragama tidak mencirikan dimana mereka berada.

Baca Juga  Bivitri Susanti: Semua yang Dibahas Dalam Draft Revisi UU KPK Akan Melemahkan KPK

Dalam praktek beragama, mereka menyeting cara beragama harus sama dengan zaman datangnya dan atau setidaknya mirip dengan kondisi sosial tempat agama itu diturunkan. Padahal agama, misalnya Islam tidak identik dengan dunia Arab, demikian pula Kristen (Protestan dan Katolik) tidak identik dengan Nazareth (Israel) dan Barat (Romawi).

Sebagai Muslim, penulis meyakini bahwa, praktek kehidupan beragama Islam di tanah Arab, Persia (Iran, Irak), Pakistan, India atau Afghanistan berbeda dengan praktek beragama Islam di Indonesia, include Tanah Papua. Substansi Islam yang meyakini ke-Esa-an Tuhan ( Tawhîd) dan prinsip-prinsip peribadatannya adalah satu secara universal. Pola hidup Muslim yang berbeda-beda sesuai dengan pola kebudayaan masing-masing bangsa dan tempat. Atas dasar itu, praktek kehidupan beragama di Tanah Papua haruslah benar-benar mampu adaptif dengan pola kebudayaan manusia Papua. Tentu saja bukan suatu langkah similarisasi agama terhadap budaya Papua atau paralelisasi budaya Papua terhadap agama, tetapi bagaimana agama menjadi lebih fungsional bagi praktek budaya; dari yang tidak baik ke arah yang lebih baik.

Di masa Nabi Muhammad SAW, kehadiran Islam di satu sisi menumpas paganisme (pemberhalaan) tetapi di sisi lain mengakomodir unsur-unsur kebudayaan masyarakat Arab kuno yang baik sebagai praktek kebudayaan Islam yang legitim. Praktek kehidupan Muslim di Tanah Papua seharusnya mengikuti prinsip fleksibiltas ini, sehingga seorang Muslim Papua mesti memelihara nilai-nilai adat yang baik, termasuk membuang kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik dan mengambil unsur-unsur budaya baru yang lebih baik ( al-mukhâfadzhatu ‘ala al-qadîmi al-shâlihi wa al-akhdzu bi al-jadîdi al-ashlahi).

Islam dimana pun, termasuk di Tanah Papua adalah Islam yang menghargai pluralitas, toleran dan dapat bekerjasama dengan semua golongan. Di bidang teologis (ibadat), toleransi seorang Muslim jelas seperti terdapat dalam pernyataan : “Bagimu agamamu, bagiku agamaku” (Qur’an 109:6) dan “Tak ada paksaan memeluk agama Islam” (Qur’an 2: 256). Tetapi di bidang sosial (muamalat) Islam menganjurkan umatnya mengembangkan hubungan sosial sebagai kodrat kesejagatan umat manusia. Dengan demikian, anasir-anasir fanatisme kelompok yang mengatasnamakan Islam di Tanah Papua, bukan merupakan pesan ( risâlah, message) dari praktek kesejatian Islam. Umat Islam tidak boleh mengembangkan rasa permusuhan diatas ketidaktahuan. Kesalahan dalam penyampaian pesan akan berakibat buruk pada keutuhan dan harmonisasi sosial. Al-Qur’an secara imperatif menegaskan perlu sikap kritis, korektif dan verifikatif terhadap informasi yang sampai ke telinga karena jika tidak begitu informasi ini bisa saja dibuat oleh orang fasik untuk menghancurkan tatanan sosial.

Baca Juga  Minimalis dan Stylish! Intip OOTD utuk Postur Tubuh Jenjang ala Beauty Influencer Suhay Salim

“Hai orang-orang percaya, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita (informasi) maka periksalah dengan teliti (kritis, korektif dan verifikatif) terhadap informasi itu, agar kamu tidak melakukan suatu tindakan (main hakim sendiri) kepada suatu golongan tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya yang kemudian kamu menyesal akan tindakanmu itu” (Qur’an : 49 : 6).

Kepada sesama pengikut jalan Tuhan di Tanah Papua, mari sama-sama kita berintrospeksi ( self portrait, ibda’ bi nafsik), tentang bagaimana sebaiknya kita saling memahami ( mutual understanding) tentang masalah-masalah yang menjadi social concern kita. Hal ini adalah keutuhan kita bersama, tentang pentingnya penyampaian pesan Kitab Suci sesuai dengan rasa keberagamaan manusia Papua.

Misi Kitab Suci adalah misi universal, tidak tergantung pada ruang dan waktu. Kitab Suci senantiasa menghormati kelokalan umatnya, di lahan mana benih-benih profetik harus ditaburi. Di beberapa tempat, para pengkhutbah menggunakan ayat-ayat suci mengancam jama’ahnya, seolah-olah dialah kebenaran plus Tuhan. Jubah panjang, berjenggot, menyalami sesama dengan mata (agak) memelas, seolah-olah ingin mengatakan kepada orang lain bahwa inilah kesalehan pribadi ( personal piety) yang dipunyai, sementara dalam praktek kehidupannya tidak tercermin kesalehan sosial ( social piety) yang semestinya. Di lain tempat para pengkhotbah agung mencoba menarik garis lurus antara perintah Kitab Suci dan tujuan-tujuan politis tertentu, seolah-olah mereka telah bertemu Roh Kudus dan menerima perintah Nubuwat dari Tuhan. Tidak sedikit pandangan agama yang mereka ajarkan kepada umatnya adalah pandangan sektarian, fanatisme ekstrim dan memonopoli kebenaran. Terkadang fanatisme itu ditunjukkan dengan sikap keberagamaan yang menggebu-gebu dan mengabaikan asas-asas kepatutan.

Dalam kesempatan ini, saya ingin katakan, bahwa wacana Kota Injil, atau Tanah Yang Dijanjikan (Tanah Perjanjian) itu memiliki potensi destruktif dan menihilkan kesucian agama. Sebab jika kelakuan dan tabiat warganya tidak sesuai dengan aturan kitab suci atau nama daerahnya, itu sama saja mencampakan Kitab Suci dalam lautan dosa dan pelanggaran. Di tempat lain orang bisa saja mengklaim Kota Al-Qur’an dan sebagainya yang menurut hemat saya, semua klaim itu merusak harmoni sosial manusia Papua.

Kontekstualisasi Agama

Agama menawarkan keseimbangan dan rasionalitas, tetapi kalau yang terjadi adalah sikap memonopoli kebenaran, fanatisme buta, permusuhan antarsesama dan berbagai ulah destruktif atas nama agama, maka mungkinkah agama menjadi sumber perdamaian? Manfaat apalagi yang hendak diharapkan dari agama, kalau agama yang datang di Tanah Papua hanya berfungsi mengacaukan nilai-nilai adat adiluhung manusia Papua yang telah berurat-akar secara lestari tanpa tendensi perbedaan paham keagamaan!

Baca Juga  Eks Jubir Gus Dur: Tritura Diperas Jadi Ekatura, Turunkan Presiden!

Dari sini keberadaan para pemuka agama, penuntun umat, pelanjut misi suci ( sacred mission) para Nabi dan Rasul mesti berintrospeksi atas sikap dan pandangan-pandangannya. Kepada para pengkhotbah, saya sarankan agar teknik evangelisasi atau da’wah keagamaan sejatinya menghadirkan Kitab Suci sesuai dengan format Tuhan bukan format anda.
Agama harus dihadirkan dalam konteks masyarakat tempat agama itu dianut, karena yang demikian itu sejalan dengan unsur humanitas agama. Sebab agama ( Arab :al-dîn) berarti aturan, etika, adab, kesusilaan dan kepatutan. Agama per se Tuhan sendiri tidak menuntut umatnya di luar batas kemanusiaannya (kesanggupannya). Tuhan melalui Firman-Nya menyerukan pentingnya sikap toleran. Tidak ada ajaran agama yang bertentangan dengan kodrat manusia. Jadi sesungguhnya Tuhan memiliki otoritas tetapi tidak bersifat otoriter dalam perintah-perintah-Nya. Ia memiliki prerogasi mutlak atas makhluk-Nya, tetapi Kasih-Nya melebihi kemurkaan-Nya.

Mari kita mengambil pelajaran bahwa Tuhan sendiri memberikan toleransi dan dispensasi kepada umatnya, sementara antarsesama umat terkadang tidak terdapat toleransi dan dispensasi itu.

Dalam praktek kehidupan, kita menyaksikan kejadian-kejadian yang pada hakekatnya bertentangan dengan inti ajaran agama yang dianut oleh kita. Ada pasien yang tidak diberi makan dan perawatan selayaknya hanya gara-gara ia tidak sanggup membayar tagihan rumah sakit. Ada anak yang dikeluarkan dari sekolah karena orang tuanya tidak mampu membayar uang sekolah dan lain sebagainya. Masih banyak sikap anti-toleransi dan pro-diskriminasi di sekitar kita yang dilakukan oleh manusia terhadap sesama manusia yang tidak berdasarkan kemanusiaan tetapi berdasarkan kebendaan. Sikap semacam itu sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip humanitas agama, antara lain yang merupakan elan vital dogma Kristen dan Islam.

“Kasihilah sesamamu manusia sebagaimana engkau mengasihi dirimu sendiri” (Mat.22:39)

“Tidaklah seseorang dikatakan orang percaya, kecuali ia mengasihi orang lain seperti mengasihi dirinya sendiri” (Hadits Nabi Muhammad S.a.w).

Kita merindukan para tokoh segala umat dapat menghadirkan agama berwajah Papua yang toleran dan damai dan menolak penafsiran Firman Tuhan berdasarkan nafsu dan pikirannya sendiri. (bersambung)

Ciputat, 29722

No More Posts Available.

No more pages to load.