Air Mata di Balik Batako: Kisah Pilu Keluarga Nahrawi Salamudin, Korban Kriminalisasi PT Position

oleh -480 views

Kamaria sendiri setiap hari membuat kue dan jajanan kecil untuk dijual di pasar Maba. Jika sedang tidak membuat makanan, ia memungut biji pala di kebun tetangga—apa saja yang bisa ia lakukan untuk menyambung hidup.

Duka di Tengah Perjuangan

Bagi Kamaria, kehilangan suaminya bukan sekadar kehilangan pasangan hidup. Tapi juga kehilangan rasa aman, sandaran, dan harapan.

“Setiap malam saya berdoa agar suami saya pulang. Kami tidak minta apa-apa, cuma keadilan,” katanya dengan suara yang nyaris putus.

Keadilan yang ia maksud bukan hanya untuk suaminya, tapi juga untuk masyarakat adat Maba Sangaji yang selama ini memperjuangkan hak mereka atas lingkungan dan tanah ulayat yang terancam eksploitasi tambang.

“Saya tahu kami rakyat kecil. Tapi kalau hukum selalu berpihak ke yang kuat, bagaimana nasib kami? Kami ini juga manusia, kami juga punya hak,” ujar Kamaria.

Baca Juga  Pertina Gugat Menpora di PN Jakarta Pusat, Desak Transparansi Legalitas Perbati

Jeritan Sunyi dari Tanah yang Terluka

Kasus kriminalisasi terhadap Nahrawi Salamudin bukan yang pertama, dan barangkali bukan yang terakhir.

Tapi suara lirih Kamaria Malik—seorang ibu, istri, dan pejuang kehidupan—menggambarkan luka yang lebih dalam: luka sosial, ekonomi, dan batin yang dialami keluarga korban kriminalisasi perusahaan tambang.

Di tengah geliat industri tambang yang terus mengoyak bumi Halmahera, masih ada rumah-rumah batako seperti milik Kamaria, tempat air mata jatuh tanpa henti. Tempat harapan kecil dipeluk erat oleh mereka yang hanya ingin hidup layak di tanah sendiri.

No More Posts Available.

No more pages to load.