Ambon, De Oranje, dan Ingatan yang Tak Pernah Selesai

oleh -37 views

Oleh Dino Umahuk, Jurnlis senior dan sastrawan nasional

Ambon selalu punya cara sendiri dalam mencintai sepak bola. Ia bukan sekadar soal pertandingan, bukan pula hanya tentang siapa mencetak gol dan siapa pulang dengan kepala tertunduk. Di kota ini, sepak bola adalah ingatan—kadang manis, kadang getir—yang diwariskan lintas generasi.

Maka ketika kabar itu datang—bahwa Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerrisen, akan hadir langsung di Ambon untuk nonton bareng laga Belanda melawan Swedia di Piala Dunia 2026—yang bergetar bukan sekadar euforia. Ada sesuatu yang lebih dalam: semacam pengakuan diam-diam atas hubungan yang tak pernah benar-benar putus.

Lapangan Merdeka, yang akan menjadi lokasi nobar, bukan sekadar ruang publik. Ia adalah panggung sejarah. Di sana, orang-orang akan berkumpul dini hari, membawa atribut oranye, menyanyikan lagu-lagu dukungan, dan sekali lagi—tanpa banyak disadari—merayakan keterikatan yang sudah berumur ratusan tahun.

Pertanyaannya sederhana: mengapa Belanda?

Baca Juga  Proyek Irigasi Rp34 Miliar di Morotai Jebol, Kejati Malut Mulai Cermati

Jawabannya tidak pernah sederhana.

Bagi sebagian orang Maluku, terutama di Ambon, Belanda bukan sekadar negara lain di peta dunia. Ia hadir dalam cerita keluarga, dalam nama-nama marga, dalam jejak sejarah kolonial yang kompleks. Ada luka di sana, tetapi juga ada nostalgia. Ada ketidakadilan, tetapi juga ada rasa memiliki yang aneh—yang sulit dijelaskan dengan logika politik hari ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.