Ambon, Titik Nol Protestan di Asia

oleh -1,263 views

Oleh: Engelina Pattiasina, Direktur Archipelago Solidarity Foundation

Judul ini mungkin terdengar bombastis: bagaimana mungkin Protestan Ambon disebut sebagai pionir Protestan di Indonesia, bahkan Asia? Namun jika kita menelusuri garis waktu sejarah Reformasi, klaim itu justru memiliki pijakan yang kuat.

Semua bermula di abad ke-16, ketika seorang biarawan Jerman, Martin Luther, menggugat otoritas Gereja Katolik Roma. Pada masa itu, Gereja bukan sekadar lembaga keagamaan, melainkan pusat kekuasaan politik dan sosial Eropa. Ketika Luther menolak mencabut 95 tesisnya dalam sidang gereja di Diet of Worms tahun 1521, ia tidak hanya memantik perdebatan teologis, tetapi juga memicu pergeseran geopolitik.

Penemuan mesin cetak mempercepat penyebaran gagasan Reformasi. Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman—tidak lagi eksklusif dalam bahasa Latin—dan Protestanisme menjalar cepat. Eropa pun terbelah antara Katolik dan Protestan.

Setelah wafatnya Luther pada 1546, konflik berkepanjangan itu menemukan titik kompromi dalam Peace of Augsburg tahun 1555. Melalui prinsip cuius regio, eius religio—siapa berkuasa, dia menentukan agama wilayahnya—Protestanisme diakui sebagai agama sah dalam Kekaisaran Romawi Suci. Agama menjadi identitas politik negara.

No More Posts Available.

No more pages to load.