China dan banyak peserta lain – termasuk India, Afrika Selatan, Brasil dan beberapa negara berkembang berpengaruh lainnya – telah menolak menandatangani tentangan Amerika dan Eropa terhadap invasi Rusia ke Ukraina.
Sebagian pihak bahkan menolak mentah-mentah permohonan Barat untuk ikut mengutuk konflik tersebut; yang oleh Amerika dan sekutunya dilihat sebagai serangan langsung terhadap tatanan berbasis aturan internasional yang telah berlaku sejak akhir Perang Dunia II.
Perbedaan sikap ini telah mendorong terjadinya pertemuan persiapan yang berpotensi kontroversial menjelang KTT G20 bulan November nanti, di tengah pertanyaan tentang apakah Presiden Rusia Vladimir Putin akan hadir atau tidak.
Amerika telah memperjelas bahwa pihaknya tidak yakin Putin harus hadir, tetapi telah menyerukan kepada Indonesia – selaku tuan rumah – untuk mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy jika pemimpin Rusia itu tetap berpartisipasi dalam pertemuan penting itu.
Alasan Indonesia Tetap Undang Rusia Hadir ke G20
Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyampaikan keberatannya jika Presiden Rusia Vladimir Putin tetap diundang untuk hadir ke G20.
Menanggapi hal tersebut, pihak Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) mengeluarkan pernyataan.
“Sudah sesuai dengan presidensi sebelumnya, adalah untuk mengudang semua anggota G20,” ujar Dian Triansyah Djani, Stafsus Program Prioritas Kemlu dan Co-Sherpa G20 Indonesia.




