Karena itu, konten digital idealnya tidak hanya menyampaikan informasi mengenai aksi, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan literasi mengenai pentingnya perdamaian dan keadilan.
Respons masyarakat di berbagai platform media sosial terhadap aksi AMGPM juga dinilai menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Merawat Damai di Tengah Bara Konflik
Dalam perspektif antropologi perdamaian, Rudy menempatkan konflik dan perdamaian sebagai dua realitas yang selalu hadir dalam kehidupan manusia.
Manusia memiliki potensi untuk berkonflik, tetapi pada saat yang sama juga memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk membangun perdamaian.
Karena itu, menjaga perdamaian tidak semata-mata menjadi tugas pemerintah maupun aparat penegak hukum.
Masyarakat sipil, organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan serta lembaga lintas iman juga memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam merawat kehidupan bersama.
Dalam konteks tersebut, aksi AMGPM dapat dibaca sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam menyuarakan penegakan hukum dan keadilan.
Rudy mengajak berbagai elemen masyarakat, khususnya generasi muda Maluku, untuk terus mengambil peran dalam menciptakan kemaslahatan bersama.
Ia mengutip ungkapan filsuf Romawi Cicero, “Salus populi suprema lex esto”, yang berarti keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.









