Anakku dan 3 Puisi lain Nuriman Bayan

oleh -102 views

LAUTAN TAK PERNAH BISA KAU BENCI

Masih seperti dulu, lautan tak pernah bisa kau benci meski ia, berkali-kali memberimu basah dan cemas.

Ia tak sekadar sejarah dan muara bagimu. Ia sudah menjadi darah. Kau pening jika berbulan-bulan tak didekap dan dibasahinya.

Arus, buih, biru, dan getarnya, kau tak ingin hanya tumbuh di dada, mata, dan ingatanmu. Kau ingin kau yang tumbuh di sana, di jantung arus, buih, dan birunya, seperti leluhurmu dahulu.

2023

=============

KALAU PISANG SO MANDIDIH DI BALANGA

Kalau pisang so mandidih di balanga
ikan so baasap di panggang-panggang
di loyang, dabu-dabu lemon so harum dan baminya
di meja, tutup saji, piring, galas, dan mok so tarika
saya cuma ingin mengakhiri puisi ini dan pulang
ke dapur ibu:
daratan paling hijau, lautan paling biru.

Baca Juga  Honda Luncurkan Motor Matik Bertampang Unik, Segini Harganya

Kalau pisang so mandidih di balanga
ikan so baasap di panggang-panggang
di loyang, dabu-dabu lemon so harum dan baminya
di meja, tutup saji, piring, galas, dan mok so tarika
cuma ngana yang suka bafoya
yang bilang tara rindu dapur ibu.

2023

==============

KETIKA TIBA DI TANAH IBU
Buat Alm. Kak Aela

Bukan lautan atau kebun yang kini menggetarkan aku, melainkan pulangmu yang terlalu tiba-tiba dan dengan doa pun aku tak bisa menahan.

Bukan pulangmu yang mematikan lidah, langka, dan aku cuma ingin menyendiri, melainkan sepasang belia yang engkau tinggalkan yang aku tak tahu kepada siapa mereka akan memanggil ibu.

No More Posts Available.

No more pages to load.