BRAK! BRAK! BRAK!
“BUKA PINTUNYA!!!”
Suara gedoran pintu yang begitu keras disahut dengan teriakan nyaring membuat Mia harus membuka matanya. Padahal kepalanya masih pening, badannya masih terasa nyeri. Kenapa mereka tega-teganya mengganggu istirahatnya yang hanya bisa terjadi sekali untuk sehari? Apakah tidak cukup mereka menyiksa jiwa dan raganya? Memperburuk hidupnya? Oh iya, Mia lupa. Mereka adalah iblis yang selalu ingin menyiksa mangsanya. Mereka pasti tidak akan bisa tenang saat melihat mangsanya sedang beristirahat di depan mereka.
“Buka, Mia!!”
Suara teriakan bercampur bentakan itu membuat Mia tersadar dari lamunan kecilnya. Gadis itu perlahan bangkit dengan tertatih, berkali-kali ia mencoba bangkit namun, tubuh lemahnya tak kuat merespons. Akhirnya Mia terjungkal dan berakhir terbaring lagi.
Mia meringis saat sakit semakin menghunjam kepalanya, badannya semakin bertambah nyeri saat gadis itu mencoba bergerak. Mia tak dapat menahan rasa sakit ini lebih lama jika begini keadaannya. Gadis itu meringis pelan, mencengkeram selimut lusuhnya.
“Akhh!” jeritnya kencang, saat sesuatu yang keras menghantam kepalanya. Gadis itu meringis, saat merasakan sesuatu yang dingin merembes menyusuri kepalanya dan membasahi lehernya.
Dengan tenaganya yang begitu lemah, Mia mencoba menyentuh sesuatu di lehernya. Mata sayunya memicing saat mendapati cairan merah sangat kental di jarinya. Cairan berwarna merah pekat ini Mia yakini adalah darahnya.










