Antara Basalamah dan Abu Janda, (Belajar Psikologi dari Denialisme hingga Motivated Reasoning)

oleh -938 views

Oleh: Arbangi Kadarusman, Penulis

Ketika dunia sedang berguncang, ketika berita dari media-media kredibel berlomba memberitakan tentang rudal Iran yang dengan presisi menghacurkan pangkalan militer AS di negera-negara Teluk, dan ledakan yang mengguncang Israel, kita disuguhi tontonan lain yang tak kalah memukau: tontonan denialisme, atau dalam bahasa kampungnya, “turut-turut tidak mau tahu”.

Ada seorang ustadz bernama Khalid Basalamah, yang dengan tenang menyatakan bahwa rudal-rudal Iran itu hanya mengenai tanah kosong. Dan bahwa perjuangan Iran melawan Israel itu sandiwara. Semuanya sudah diatur katanya. Di sisi lain, ada seorang buzzer prozionis berkulit sawo busuk, yang bersikeras bahwa efek rudal itu kerusakannya dibesar-besarkan.

Mengapa mereka begitu? Apakah mereka kurang cerdas? Bukan. Kadang, justru orang yang cerdaslah yang paling lihai membohongi diri sendiri. Psikologi menyebutnya denialism, bias konfirmasi, motivated reasoning, cognitive dissonance, atau apalah itu. Padahal intinya sederhana: manusia itu makhluk yang malas mengakui kalau dia salah.

Anda bayangkan seseorang tumbuh besar dengan keyakinan bahwa Syiah itu sesat, menyimpang, dan harus dijauhi seperti campak. Lalu, beberapa hari ini, ia melihat berita bahwa Iran yang Syiah berperang melawan Israel dan berani meluluh-lantakan pangkalan AS di negara-negara Teluk. Sementara negara-negara muslim idolanya justru selfie bareng pejabat Tel Aviv. Maka otaknya pun mendidih: “Lho kok bisa?” Dan karena tak sanggup menerima kenyataan yang bertentangan itu, otak mulai berputar. Bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk merakit ulang dunia agar tetap sesuai cetakan keyakinannya. Maka hadirlah kalimat sakti: “Itu semua cuma drama!”

No More Posts Available.

No more pages to load.