Idenburg, juga Van Heutsz, tentu saja pernah menempati “Hotel Gubernur Jenderal”, yang sejak Indonesia Merdeka digunakan sebagai Istana Negara. Kemegahannya, apalagi dilihat dari masa pembangunannya, menyiratkan kekuasaan besar penghuninya.
Presiden Indonesia berkantor di sana. Maka, tak ada yang aneh bila Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasakan bau kolonial di Istana Negara. Kata Jokowi, setiap hari dirinya dibayang-bayangi bau kolonial. Saya yakin, presiden-presiden sebelumnya pun demikian.
Saya juga selalu merasakan bau kolonial saat kereta api yang saya tumpangi melintasi Terowongan Mrawan yang menghubungkan Jember – Banyuwangi (Jawa Timur). Bau kolonialnya kuat sekali.
Terowongan sepanjang 690 meter yang menembus perut Gunung Gumitir itu mulai dibangun pada zaman Gubernur Jenderal Willem Rooseboom (1901). Dilanjutkan Gubernur Jenderal Van Heutsz, dan baru selesai pada awal Gubernur Jenderal Idenburg (1910).
Apa yang terbayang dari bau kolonial saat kereta api melewati Terowongan Mrawan? Tanpa kekuasaan besar (terutama pengerahan tenaga kerja), tanpa modal dan kepentingan besar, mustahil terowongan kereta api sepanjang 690 meter diselesaikan pada masa itu.
Bukan kekuasaan besar, modal dan kepentingan besar saja. Di sana berkelindan pula nilai-nilai dan ilmu pengetahuan baru (modern) yang berbeda corak dengan yang dikuasai nenek moyang kita.










