“Sekolah dan kantor desa sudah tergenang,” jelas Purwanto, petani asal Loping Mulyo.
Menurut dia, banjir serupa sebelumnya terjadi pada Januari lalu. Saat itu, tanggul yang sama jebol dan menyebabkan lebih dari 50 hektare sawah terendam.
Purwanto mengaku, warga berharap pemerintah membangun tanggul permanen yang lebih kokoh, namun hingga kini belum dilakukan.
“Kami harap Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah segera turun tangan dan memberikan perhatian serius terhadap persoalan yang terus berulang ini, agar petani tak lagi menjadi korban setiap kali musim hujan datang,” pungkasnya. (red/titastory)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News









