Berkenalan dengan Van Der Mark, Pebalap WSBK yang Punya Darah Maluku

oleh -118 views
Link Banner

Porostimur.com – Mandalika: Michael Van Der Mark bisa dibilang ‘pulang kampung’ ketika sang pebalap Belanda itu tiba di Indonesia untuk menjalani seri penutup musim kejuaraan dunia World Superbike di Sirkuit Pertamina Mandalika pekan ini.

Pasalnya Van Der Mark ternyata memiliki darah Maluku yang diturunkan oleh sang nenek yang berasal dari Ambon.

Sang nenek Yohana Matitaputty menikah dengan warga Belanda dan melahirkan Juliet Matitaputty, yang merupakan ibu Van Der Mark.

Pebalap kelahiran 26 Oktober 1992 itu mengungkapkan dirinya mendapat sambutan yang hangat serta dukungan dari warga Indonesia, mengetahui ada pebalap keturunan Maluku di gelaran WSBK akhir pekan ini.

“Mereka melihat Instagram saya dan jumlah follower saya naik dalam beberapa pekan terakhir,” ungkap Van Der Mark ketika ditemui di garasi tim BMW Motorrad di Sirkuit Mandalika, setelah sesi latihan bebas, Jumat.

Baca Juga  Hasil dan Klasemen Liga Spanyol: Real Madrid Menang, Barcelona Hanya Seri

“Saya senang datang ke sini meskipun saya memiliki sedikit darah Maluku, tapi mereka merasa saya bagian dari mereka, dan seperti yang saya bilang, saya ingin membuat mereka bangga.”

Van Der Mark merupakan salah satu pebalap yang cukup kompetitif di ajang WSBK, selalu finis peringkat tujuh besar klasemen selama tujuh musim berkiprah di balap motor sport produksi masal itu.

Berasal dari Gouda, kota kecil di bagian barat Belanda, Van der Mark mengawali kariernya di paddock World Superbike setelah merebut titel kejuaraan Superstock 600 Eropa di musim keduanya pada 2012.

Ia naik ke World Supersport Championship dan butuh dua musim saja untuk merebut gelar juara dunia balap yang berada di satu kelas di bawah WSBK setelah mengoleksi 10 podium dalam 11 balapan, termasuk enam kemenangan.

Baca Juga  Kreasi dan inovasi DD, bantu angkat derajat desa di Maluku

Memiliki segudang prestasi dan ayah yang seorang pebalap, Van Der Mark sebenarnya tak memiliki keinginan menjadi pebalap di masa kecilnya. Namun semua itu berubah ketika ia menonton MotoGP Belanda atau Dutch TT di usia 11 tahun.

“Saya di sana duduk di atas bangku M1 milik Valentino Rossi. Dari momen itu dan seterusnya, saya mengatakan kepada ayah saya: ‘saya ingin membalap!,” ungkap Van Der Mark beberapa waktu lalu.

Van der Mark mengaku ayahnya tak pernah memaksanya untuk menjadi seorang pebalap. “Dia membiarkan saya memutuskan kapan saya ingin memulai.”

“Orang tua saya selalu mendukung saya… Saya beruntung didampingi ayah saya dalam beberapa hal karena semua pengalaman yang ia miliki, menemukan sponsor dan semuanya.

Baca Juga  Tim Hukum Usman-Bassam Polisikan Empat Pelaku Pencemaran Nama Baik

(red/bisnis)