Oleh: Yudi Latif, Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan
Saudaraku, kepahlawanan bukan sesuatu yang jauh, bukan bayang-bayang masa silam yang dikenang dari kejauhan—bukan pertanda kesilaman dan kematian. Ia hidup—atau seharusnya hidup—di dalam diri kita, di sini, saat ini. Bukan penantian akan hadirnya juru selamat, melainkan keberanian kecil yang terus kita pilih, kejujuran yang kita rawat, kesediaan berdiri tegak meski tanpa sorak.
Namun kita kerap kehilangan arah. Kita diajari—atau membiarkan diri percaya—bahwa pahlawan datang dari luar diri, muncul saat genting untuk menyelamatkan. Maka kita pun menunggu. Dalam penantian itu, krisis dibiarkan berlarut, karena tanggung jawab kita tangguhkan pada sosok yang tak kunjung hadir.
Di saat yang sama, ruang publik dipenuhi kegaduhan yang menyesatkan. Di era media sosial, algoritma menentukan siapa yang terlihat dan lenyap. Sensasi dipelihara karena mendatangkan perhatian, sementara keteladanan berjalan sunyi, nyaris tanpa pengakuan. Yang bising diberi panggung, yang bernilai kerap tersisih—seolah kita lebih terpikat gemuruh daripada merawat yang tumbuh perlahan.
Padahal, seperti diingatkan oleh Jalaluddin Rumi: “Benih tumbuh dalam kesenyapan, sedangkan pohon tumbang jatuh dengan gemuruh. Destruksi itu penuh kebisingan, sementara kreasi berlangsung dalam keheningan.”










