“Saat sampah terambil dari permukaan laut, mesin penyortir langsung memisahkan menjadi tiga kategori utama: organik, anorganik, dan plastik,” jelas Gasperzs saat diwawancarai di Kantor Balai Kota Ambon, Jumat (14/11/2025).
Setelah kapal merapat ke dermaga, sampah organik akan diolah menjadi pakan maggot, mendukung program pengurangan sampah organik yang digencarkan DLHP. Sementara sampah anorganik dan plastik disalurkan ke mitra daur ulang untuk dijadikan bahan baku industri.
“Dengan alur seperti ini, bukan hanya Teluk Ambon yang dibersihkan, tetapi juga tercipta ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi,” tambah Gasperzs.
Dukungan Internasional dan Masa Depan Berkelanjutan
Selama tiga tahun pertama, seluruh biaya operasional kapal ditanggung Sidlin Aerospace, mulai dari bahan bakar, perawatan, pelatihan operator, hingga pengembangan sistem pemantauan sampah laut. Setelah masa ini, kapal akan menjadi aset resmi Pemkot Ambon.
“Teknologi ini harus memiliki keberlanjutan jangka panjang, bukan sekadar proyek sementara,” kata Gasperzs.
Dalam jangka panjang, DLHP berencana mengintegrasikan operasi kapal dengan sistem pemantauan berbasis drone dan satelit, sehingga area paling terdampak dapat dipetakan dan ditangani lebih efisien.









