Beta Maluku, Ale Maluku, Katong Samua Maluku

oleh -1 Dilihat

Oleh: Pdt. Yanez Titaley, Sekretaris Klasis GPM Masohi

BANYAK klaim-klaim kebenaran yang ditampilkan di media-media sosial oleh negeri-negeri tertentu bahkan dalam ikatan-ikatan budaya gandong terhadap asal muasal, kepemilikan wilayah atau petuanan pasca peristiwa konflik sosial yang terjadi antara negeri Kariuw, Ori dan Pelauw beberapa waktu lalu.

Tergambar klaim-klaim kebenaran itu lewat pernyataan sikap, orasi, tulisan sejarah yang sebetulnya menjadikan pandangan itu sebagai kebenaran mutlak.

Belum lagi pandangan-pandangan yang bersifat mengancam dari kelompok budaya tertentu terhadap kelompk budaya yang lain, juga atas nama kebenaran.

Jika kita belajar dari sejarah klaim-klaim kebenaran dalam budaya ini punya kesamaan dengan klaim-klaim kebenaran agama dalam kehidupan beragama kita di Maluku sebelum konflik 1999 yang cenderung menjadikan kebenaran agamanya itu sebagai kebenaran absolut, kebenaran tunggal.

Baca Juga  Diduga KDRT dan Telantarkan Istri-Anak, Bripka AZ Terancam Sanksi Etik hingga Dipecat

Dalam hal ini kita sebagai orang beragama selalu merasa diri kita sajalah yang benar karena memiliki kebenaran agama kita, dan yang beragama lain itu tidak benar, ini yang membuat kita agak lama dalam upaya perdamaian atau rekonsiliasi Maluku pada waktu itu.

Apakah klaim keagamaan itu salah? Tidak. Justru klaim kebenaran agama itu yang membuat kita tetap beriman kepada Tuhan dan membuat agama itu menjadi berarti sebagai sarana mencari dan mengenal Tuhan, salah jika mengatakan bahwa agama kita yang benar dan agama orang lain itu tidak benar.

No More Posts Available.

No more pages to load.