Beta Maluku, Ale Maluku, Katong Samua Maluku

oleh -568 views
Link Banner

Oleh: Pdt. Yanez Titaley, Sekretaris Klasis GPM Masohi

BANYAK klaim-klaim kebenaran yang ditampilkan di media-media sosial oleh negeri-negeri tertentu bahkan dalam ikatan-ikatan budaya gandong terhadap asal muasal, kepemilikan wilayah atau petuanan pasca peristiwa konflik sosial yang terjadi antara negeri Kariuw, Ori dan Pelauw beberapa waktu lalu.

Tergambar klaim-klaim kebenaran itu lewat pernyataan sikap, orasi, tulisan sejarah yang sebetulnya menjadikan pandangan itu sebagai kebenaran mutlak.

Belum lagi pandangan-pandangan yang bersifat mengancam dari kelompok budaya tertentu terhadap kelompk budaya yang lain, juga atas nama kebenaran.

Jika kita belajar dari sejarah klaim-klaim kebenaran dalam budaya ini punya kesamaan dengan klaim-klaim kebenaran agama dalam kehidupan beragama kita di Maluku sebelum konflik 1999 yang cenderung menjadikan kebenaran agamanya itu sebagai kebenaran absolut, kebenaran tunggal.

Dalam hal ini kita sebagai orang beragama selalu merasa diri kita sajalah yang benar karena memiliki kebenaran agama kita, dan yang beragama lain itu tidak benar, ini yang membuat kita agak lama dalam upaya perdamaian atau rekonsiliasi Maluku pada waktu itu.

Baca Juga  KPK Dalami Arahan Eks Wali Kota Ambon Kondisikan Para Pemenang Proyek

Apakah klaim keagamaan itu salah? Tidak. Justru klaim kebenaran agama itu yang membuat kita tetap beriman kepada Tuhan dan membuat agama itu menjadi berarti sebagai sarana mencari dan mengenal Tuhan, salah jika mengatakan bahwa agama kita yang benar dan agama orang lain itu tidak benar.

Pada sisi ini dibutuhkan dialog, duduk bicara untuk masa depan bersama yang lebih baik.

Bagaimana klaim-klaim kebenaran dalam budaya negeri-negeri tertentu terhadap jati dirinya? Apakah sejarahnya yang benar, dan yang lain salah, ataukah semuanya benar? namun dengan sumber yang berbeda?

Klaim kebenaran budaya bagi saya juga tidak salah karena itu yang membuat kita bangga sebagai orang Maluku yang kaya akan budaya.

Baca Juga  5 Film Ini Wajib Kamu Tonton Saat Patah Semangat

Di sini kita butuh dialog, butuh duduk bicara, butuh moderasi budaya, sebab pengalaman konflik 1999 tidak pernah berdampak baik bagi kita sebagai orang Maluku. Ada ungkapan yang menang jadi arang yang kalah jadi abu.

Kita butuh dialog dan dialog harus diikuti oleh Aksi. Kita belajar dari Yohanes Amos Comenius, perintis pendidikan modern.

Ketika terjadi konflik Gereja Roma Katolik (GRK) versus Gereja Reformasi Protestan (GRP), seluruh rumah dan perpustakaannya ludes terbakar. Padahal dia tidak memihak pada Paus maupun Martin Luther.

Ucapannya, kalau “kalian mengklaim bahwa kalian memiliki ajaran yang benar (orthodoxy) tetapi kalian tidak menampakkan dalam perbuatan yang benar (orthopraxis), maka sesungguhnya kebenaran kalian adalah kebohongan besar.”

Apakah implikasi buat kasus basudara yang sementara berkonflik? Dialog harus membawa kedua pihak untuk “aksi bersama mewujudkan kebenaran,

  1. Maukah kedua pihak melaporkan dan membantu Polisi menangkap pembakar rumah-rumah, penembak dalam penyerangan maupun penebang pohon cengkih?
  2. Maukah kedua pihak melakukan gugatan bersama dan menbawa bukti-bukti tertulis dengan memintakan saksi ahli dari Belanda untuk menjelaskan heregistrasi dati-dati sesudah 1860? Jangan satu pihak yang gugat, tetapi kedua pihak membuat satu tim untuk gugat Kepala Badan Pertanahan Pusat, Provinsi dan Kabupaten yang membiarkan masyarakat hidup dalam ketidakpastian.
  3. Aksi bersama dalam satu tim untuk rekonstruksi Negeri Kariuw sebagai orthopraxis.
Baca Juga  Ini Jadwal Rilis Film SpiderMan, Doctor Strange & Thor

Minimal ketiga hal ini akan membuat dialog perdamaian tidak sekedar intellictual exersise.

Mari tenangkan hati dan tetap ingat. Beta Maluku, Ale Maluku, Katong samua Maluku. Mari baku keku jang baku kuku.

Hormateeeee… (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.