BNI Harus Terbuka Pada Publik Terkait Pembobolan Dana Nasabah di Ambon

oleh -87 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: PT Bank Negara Indonesia Tbk dihantam skandal pembobolan dana nasabah yang melibatkan karyawannya sendiri.

Emiten berkode BBNI ini diminta bersikap terbuka kepada publik dan investor mengenai rencana dan langkah perusahaan mengatasi masalah ini.


Pantauan Ipotnews melalui RTI, Rabu (12/2), pukul 11.15 WIB, harga saham BBNI berada pada level 7.275. Posisi ini melemah 25 poin atau 0,34% dibandingkan penutupan perdagangan yang terakhir.


Kapitalisasi saham BNI mencapai Rp135,67 triliun. Jumlah lembar saham yang diperdagangkan sebesar 3,32 juta lembar saham. Rentang pergerakan harga saham BNI berkisar 7.275 – 7.375.

Pendiri LBP Institute, Lucky Bayu Purnomo, menilai penurunan harga saham BNI sebetulnya terbilang kecil apabila mengacu pada peristiwa pembobolan dana nasabah yang terjadi di Ambon, Maluku. Namun sebagai perusahaan yang go public, BNI memiliki kewajiban moral memberikan penjelasan kepada masyarakat.

Baca Juga  Kodim 1509/Labuha Selenggarakan Tradisi Penerimaan Personil Baru

“Terutama mengenai apa yang akan dilakukan oleh BNI untuk menyelesaikan persoalan ini. Bagaimanapun juga investor membeli saham BNI bukan untuk hari ini saja, tapi juga untuk masa depan,” kata Bayu saat dihubungi oleh Ipotnews, Rabu (12/2/2020).

Bayu melihat sebetulnya belum ada kejelasan berapa besar kerugian BNI akibat aksi pembobolan dana nasabah sebesar Rp135,5 miliar. Hanya saja kerugian yang dialami BNI jelas adalah kerugian intangible, yaitu sentimen negatif dari para investor saham.

Peristiwa ini jelas membuat investor mempertanyakan sistem pengelolaan risiko internal dari BNI, sistem good corporate governance (GCG) di BNI selaku perusahaan, maupun prospek penyelesaian kasus ini ke depannya oleh BNI.

Baca Juga  Babinsa dan Masyarakat Bersihkan Tanah Longsor yang Memutuskan Akses Darat di Gane

Kali ini yang menjadi korebannya adalah nasabah Bank BNI. Sementara pelakunya adalah 8 orang pimpinan dan karyawan BNI.

“Karena kasus ini beresiko bisa terjadi di cabang lain yang terafiliasi. Makanya saya bilang tadi perlu ada keterbukaan dari pihak BNI itu sendiri,” tutup Bayu.

Sebagaimana diketahui, kasus pembobolan dana nasabah Rp135,5 miliar ini diungkap oleh Polda Maluku. Kasus ini bermula dari pembobolan dana nasabah sebesar Rp58,9 miliar di Bank BNI Ambon.

Dalam kasus ini sudah ditetapkan 7 orang tersangka yang merupakan pimpinan dari Bank itu sendiri. Ketujuh tersangka tersebut, yakni Mantan Wakil Pimpinan BNI Cabang Utama Ambon Farahdiba Yusuf, Soraya Pellu, Kepala Cabang BNI Mardika Andi Rizal alias Callu, Kepala Cabang BNI Tual Chris Rumalewang, Kepala Cabang BNI Aru Josep Maitimu, Kepala Cabang BNI Masohi Martije Muskita.

Baca Juga  Latihan Corpat Indonesia dan Philipina Berakhir, Pangarmada II Menyampaikan ini

Sementara satu tersangka baru dalam kasus pembobolan dana nasabah ini, adalah Tata Ibrahim. Tata Ibrahim adalah pegawai BNI di Makassar, Sulawesi Selatan.

Tata ikut menampung uang hasil kejahatan dalam kasus pembobolan BNI Ambon di rekeningnya. Polisi menemukan transaksi tak wajar sejak November 2018 hingga September 2019 di rekening Tata.

“Penyidik menemukan bukti ada transaksi tidak wajar ke rekening tersangka senilai Rp 76.409.000.000. Itu terjadi sepanjang November 2018 sampai September 2019,” kata Kabid Humas Polda Maluku itu. (red/rtm/ipotnews)