Tetapi bukankah justru karena belum ada jawaban itulah pertanyaan harus tetap diajukan?
Apakah yang dibicarakan Budi Arie sekadar membaca keadaan, atau sedang membaca jalan menuju perubahan kekuasaan?
Jika sekadar analisis, mengapa harus ada kesiapan?
Jika sekadar kemungkinan, apa yang sebenarnya sedang dipetakan?
Dan jika semuanya tidak berhubungan dengan siapa pun, mengapa pembicaraan mengenai berakhirnya lebih cepat sebuah mandat pemerintahan muncul di ruang politik yang dihadiri orang-orang yang memahami betul arti kekuasaan?
Kita tidak sedang menjatuhkan putusan pengadilan. Makar adalah istilah hukum yang memiliki unsur dan pembuktian sendiri. Tetapi demokrasi juga mengenal kewaspadaan sebelum hukum harus bekerja.
Sebab mandat rakyat bukan barang yang dapat dipercepat melalui bisikan, kalkulasi, atau mapping politik.
Presiden dipilih untuk menjalankan mandatnya. Dan mandat itu, dalam keadaan normal, memiliki batas waktu yang jelas.
Maka barangkali pertanyaan terbesar dari video Budi Arie bukanlah apakah ia sedang melakukan makar.
Pertanyaannya justru lebih sederhana:
Mengapa gagasan untuk memperpendek sebuah mandat yang sah sudah menjadi sesuatu yang perlu dipikirkan, dibicarakan, dan bahkan dipersiapkan?










