“Aku tidak bermaksud apa-apa Kenanga, aku—”
“Aku percaya mas.” Kenanga duduk tepat di tengah kami sedangkan Nala berada di sampingku dan terus menayakan keberadaanku seminggu ini yang menghilang secara tiba-tiba. Hal mengejutkan terjadi saat Kenanga meraih tanganku untuk digenggamnya.
“Akhirnya kak, aku menemukanmu hanya tinggal kakak yang belum kumintai restu.”
“Kau merestui kami, bukan?”
Kulihat bahuku yang diremas Nala dengan kuat, ia seakan mentrasfer kekuatan kepadaku. Aku tersenyum melihat raut wajah Aidit yang menunggu tanggapanku. Wajah penuh harap yang nyatanya membuat mataku berlinang airmata. Semampuku mengangguk menanggapi pertanyaan Kenanga. “Aku merestui kalian, berbahagialah berikan kami ponakan lucu ya kan Nal?”
Aku melihat Nala yang juga meneteskan airmata mengangguk-angguk menanggapi ucapanku namun kesedihan tetap pada matanya yang menatapku penuh iba. Aku berharap Nala takkan pernah bicara apapun sampai mati, ia kupercayai menyimpan rahasia kelam yang mungkin Aidit juga tidak ingat hal itu. “Anggap saja, hal itu tidak pernah terjadi Nal.” Bisikku padanya. (*)











