Oleh: Hasby Yusuf, Kolumnis, Redaktur Eksekutif Porostimur.com
HARI JADI TIDORE ditetapkan pada tanggal 12 April dengan tahun 1108 sebagai portal penanda usia yang dihitung ketika Sultan Muhammad Nakel memerintah. Atau dalam catatan Kesultanan Tidore menyebutkan berdirinya Kerajaan Tidore terhitung sejak Jou Kolano Sjah Jati naik tahta.
Tanggal 12 April sendiri adalah penanggalan untuk mengenang Heroisme Sultan Nuku atau yang dikenal dengan sebutan Sultan Said’ul Jehad Muhammad Amiruddin Syah Kaicil Paparangan Jou Barakati saat menggelorakan revolusi untuk penaklukan Tidore dari penjajah. Peristiwa tersebut terjadi tepat pada tanggal 12 April 1797.
Diceritakan pagi itu, armada yang dipimpin oleh Sultan Nuku mengepung Tidore dari berbagai penjuru. Di atas anjungan kapal Resource, Nuku memimpin langsung pendudukan atas Tidore, yang saat itu masih dikuasai oleh adiknya sendiri, Sultan Kamaluddin. Nuku mengirim utusan menghadap Sultan Kamaluddin, menyampaikan pesan agar Kamaluddin menyerahkan takhta Sultan Tidore kepadanya.
Angkatan laut Nuku yang terdiri dari 79 kapal dan sebuah kapal Inggris muncul di Tidore. Lewat serangan massif, Tidore akhirnya bisa direbut. Dan satu hal yang perlu dicatat bahwa dalam Revolusi Nuku atau Revolusi Tidore ini, tak ada perlawanan dan pertumpahan darah di bumi Tidore. Nuku pun dinobatkan sebagai Sultan Tidore dan diserahi gelar sebagai Jou Barakati atau “Tuan yang Selalu Diberkati”. Orang-orang Inggris, yang mendukung perlawanan Nuku terhadap Belanda, menjulukinya “The Lord of Fortune.”









