Cendekiawan Muslim Ibnu Battuta, Penjelajah 44 Negara Sejauh 120 Ribu Km

oleh -35 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Ibnu Battuta dilahirkan pada 24 Februari 1304 M di Tangier, Maroko dengan nama Abu Abdullah Muhammad ibn Abdullah al-Lawati al-Tangi bin Batutah. Ia dikenal sebagai penjelajah dunia paling andal dari Maroko.

Hal ini disebabkan ia mengelilingi pelosok dunia meski teknologi pelayaran tidak sehebat seperti sekarang.

Mengutip dari buku Petualangan Ibnu Battuta: Seorang Musafir Muslim Abad ke-14 karya Ross E. Dunn, semasa kecil, Ibnu Batutta dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang menerima pengajaran ilmu hukum (fiqh: ilmu hukum Islam) atau hakim (qadhi) dan pengetahuan-pengetahuan Islami lainnya.

Pada 14 Juni 1325 M/ 2 Rajab 725 A. H, Ibnu Batuttah mulai meninggalkan Tangier, kota kelahirannya, menuju arah tenggara melalui daratan tinggi Rif Timur.

Pada usianya yang kurang lebih 20 tahun, Ibnu Battuta pergi berziarah ke Mekkah untuk mengunjungi makam nabi. Seusai dari Mekkah, ia kembali melanjutkan perjalanan sekitar 120 ribu km sepanjang dunia Muslim atau setara dengan melintasi 44 negara di masa sekarang, dilansir dari buku 99 Tokoh Muslim Dunia yang ditulis oleh Salman Iskandar.

Baca Juga  Dukung Program Pemerintah, Polres Halsel Bercocok Tanam Menjaga Ketahanan Pangan Menghadapi Pandemi Covid-19

Perjalanan Ibnu Batutta menuju Mekkah menggunakan jalur darat dengan menyusuri pantai Afrika Utara hingga tiba di Kairo dan masih berada di wilayah Mamluk yang relatif aman.

Ibnu Batutah mengambil jalur yang jarang ditempuh pengembara yaitu, menuju Sungai Nil, dilanjutkan ke arah timur melalui jalur darat menuju dermaga Laut Merah di ‘Aydhad. Namun, saat hampir mendekat ke kota tersebut, Ibnu Battuta dipaksa kembali karena ada pertikaian lokal.

Kembali ke Kairo, ia menggunakan jalur kedua, ke Damaskus (yang selanjutnya dikuasai Mamluk), dengan alasan keterangan atau anjuran seseorang yang ditemuinya di perjalanan pertama, bahwa ia hanya akan sampai di Mekah jika telah melalui Suriah.

Dikutip dari buku Petualangan Ibnu Battuta: Seorang Musafir Muslim Abad ke-14, selama 24 hari di Damaskus, Ibnu Batutta tinggal di salah satu madrasah Mazhab Maliki setempat dan memulai pendidikan formalnya yang pertama di luar negeri.

Baca Juga  RSUP dr. J. Leimena Hadiri Peringatan HUT RI ke-75 secara Virtual

Dalam buku Rihlah, yang berisi kisah perjalanan dan ditulis oleh Ibnu Batutta, disebutkan bahwa ia telah mengikuti kuliah dan menerima ijazah dengan lebih dari 14 guru yang berbeda-beda.

Kemudian, setelah menjalani Ramadhan di Damaskus, Ibnu Battuta bergabung dengan suatu rombongan yang menempuh jarak 800 mil dari Damaskus ke Madinah, makam Nabi Muhammad SAW. Selang 4 hari kemudian, Ibnu Battuta kembali melanjutkan perjalanannya ke Mekkah.

Setelah menyelesaikan rangkaian ritual haji, sebagai hasil renungannya, dia kemudian memilih untuk melanjutkan menjelajah.

Dalam catatan sejarah, Ibnu Battuta telah mengelilingi beberapa kawasan di antaranya, Afrika bagian Utara, Afrika bagian Selatan, Afrika Barat, Eropa Timur, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Tenggara, dan China.

Baca Juga  Komisi II DPRD SBB Gelar Rapat Evaluasi Pelaksanaan APBD 2021, Rutasouw: Belum Jalan Sesuai Harapan

(red/dtc)

No More Posts Available.

No more pages to load.