Selama ratusan tahun sang nabi berusaha menyerukan kebaikan kepada bani Rasib tapi mereka tak luput dari kesesatan. Setiap satu generasi berlalu, mereka berpesan untuk tidak mengikuti dan memerangi ajaran Nabi Nuh AS.
Nabi Nuh AS merasa putus asa. Beliau lantas berdoa kepada Allah SWT sebagaimana tercantum dalam surah Asy Syu’ara ayat 117-118,
قَالَ رَبِّ اِنَّ قَوْمِيْ كَذَّبُوْنِۖ ١١٧ فَافْتَحْ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَّنَجِّنِيْ وَمَنْ مَّعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ١١٨
Artinya: “Dia (Nuh) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku. Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.”
Sang Khalik mendengar doa Nuh AS. Sang nabi diperintahkan membuat bahtera untuk menyelamatkan dirinya beserta pengikutnya dari azab yang akan dilimpahkan kepada bani Rasib yang ingkar.
Nabi Nuh AS memperingatkan kaumnya terkait hal itu. Namun mereka malah mencemooh sang nabi yang sedang membuat bahtera.
Setelah bahtera itu rampung, Allah SWT memerintahkan Nuh AS memasukkan hewan berpasang-pasangan, serta orang mukmin ke dalam kapal. Azab Sang Khalik dilimpahkan usai Nuh AS, kaumnya dan para hewan menaiki bahtera.
Banjir besar dan dahsyat meluluhlantakkan bani Rasib. Banjir ini bahkan disebut tak pernah terjadi sebelumnya.









