Porostimur.com, Madrid — Álvaro Arbeloa resmi memulai babak baru dalam kariernya sebagai pelatih kepala Real Madrid. Ia menggantikan Xabi Alonso yang hengkang usai kekalahan dari Barcelona di ajang Piala Super Spanyol. Meski ini adalah lonjakan besar dari kursi pelatih Castilla ke tim utama, Arbeloa menyambutnya dengan sikap kalem, tapi penuh antusiasme.
Bukan karena kurang ambisi, melainkan karena ia merasa benar-benar memahami klub ini—dari ruang ganti, tekanan publik, hingga tuntutan prestasi.
Menggantikan Alonso, Tantangan di Ruang Ganti Jadi Sorotan
Kepergian Xabi Alonso disebut-sebut tak lepas dari kegagalannya mengendalikan ruang ganti. Meski punya nama besar sebagai legenda Madrid, Alonso dinilai kesulitan menjinakkan ego para pemain bintang.
Di titik inilah, pendekatan Arbeloa menjadi sorotan. Rekam jejak kepelatihannya memang belum seimpresif Alonso yang sukses membawa Bayer Leverkusen meraih gelar. Namun, Arbeloa punya satu modal besar: pemahaman mendalam tentang kultur Madrid.
Ia meniti karier kepelatihan dari level usia muda, mulai dari tim U-14, lalu naik hingga Castilla. Bagi banyak pihak, justru jalur panjang ini yang membuatnya matang secara mental dan karakter.
Dua Dekade Bersama Madrid, Arbeloa Tahu Betul Tekanan Klub
Meski bukan kelahiran Madrid, Arbeloa bisa dibilang “produk asli” klub tersebut. Ia bergabung sebagai pemain muda pada usia 18 tahun, menembus Real Madrid C, B, hingga tim utama pada 2004.










