Cerita Para Jurnalis dari Medan Perang Gaza yang Diliputi Ketakutan

oleh -77 views
Link Banner

Porostimur.com | Gaza: Sejumlah jurnalis Palestina menceritakan tentang ketakutan dan kelelahan mereka selama bertugas meliput di medan perang Gaza, di mana bom Israel mangancam setiap saat.

Eskalasi konflik telah berlangsung berminggu-minggu antara Palestina dan Israel, dari kekerasan di kompleks Masjid Al-Aqsa.

Setidaknya 222 orang tewas, termasuk 63 anak dalam serangan bom Israel di Gaza, menurut otoritas kesehatan.

Sedangkan, sedikitnya 12 orang, termasuk 2 anak di Israel tewas dalam serangan roket dari Hamas.

Serangan Israel telah menyebabkan beberapa bangunan bertingkat tinggi di Gaza jadi sasaran penghancuran. Di antaranya adalah blok menara al-Jalaa yang berisi kantor media internasional.

Para pendukung kebebasan pers mengutuk serangan itu sebagai upaya untuk membungkam jurnalis.

Melansir Al Jazeera pada Rabu (19/5/2021), sejumlah jurnalis Palestina mengungkapkan dukanya yang diliputi ketakutan dan tekad menyampaikan cerita di balik eskalasi bentrokan Palestina dan Israel yang berlangsung di Gaza:

Ghalia Hamad

“Setiap kali saya mendengar bom, saya merasa panik dan langsung menelepon ke rumah untuk memeriksa keluarga saya,” ungkap Hamad kepada Al Jazeera.

Wartawan berusia 30 tahun, yang bekerja sebagai koresponden Al Jazeera Mubasher di Jalur Gaza yang terkepung, memiliki 2 putri, berusia 5,5 tahun.

Baca Juga  Bawa Narkoba Jenis Sabu, Sepasang Kekasih Diciduk BNN Maluku

“Ini adalah perang brutal. Ini adalah pertama kalinya kami mengalami serangan seperti itu dengan keganasan ini. Perang terbaru 2014, dan perang lainnya tahun 2012, 2009 juga sulit, tapi ini yang paling sulit,” ujarnya.

Seperti jurnalis lain di lapangan, Hamad tidak berhenti bekerja sejak eskalasi.

“Kami harus menghadapi situasi berbahaya di sekitar kami. Kami tidak memiliki apa pun untuk melindungi diri kami sendiri. Setiap orang adalah target dan diserang,” kata Hamad kepada Al Jazeera.

“Saya mencoba untuk melakukan pekerjaan saya tanpa memikirkan kerugian yang mungkin saya hadapi. Kami kehilangan kantor kami yang dibom beberapa hari yang lalu.”

Seperti ibu lainnya, Hamad ingin berada di samping keluarganya, terutama putrinya, selama masa-masa sulit ini, “di mana suara bom terlalu keras dan di mana-mana”.

“Ketika saya mendengar ada bom di dekat rumah saya, saya langsung menelepon untuk memeriksanya,” kata Hamad.

“Meski, aku tidak akan pergi (ke sana). Saya harus terus menyampaikan pesan dan menceritakan apa yang terjadi pada orang-orang,” terangnya.

Hossam Salem

Jurnalis foto Hossam Salem sebenarnya tidak berencana untuk meliput gejolak kekerasan terbaru di tanah airnya.

Baca Juga  Ramalan Cuaca Ambon Hari Ini, Rabu 15 Juli 2020

Fotografer itu meninggalkan Gaza ke Turki 2 tahun lalu, tetapi kembali mengunjungi keluarganya. Ia tiba tepat pada hari yang sama ketika Israel memulai serangan udara di wilayah itu.

“Saya berencana untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarga saya. Namun, secara mengejutkan saya disambut oleh serangan dan pemboman besar pada saat kedatangan saya. Itu adalah kejutan besar bagi saya,” ungkap fotografer berusia 32 tahun itu.

“Saya bergabung meliput di lapangan tanpa melihat keluarga saya sendiri,” ujarnya.

Salem telah bekerja sebagai fotografer selama lebih dari 10 tahun. Ia telah meliput 3 perang di Gaza, seperti Great March of Return, serqangkaian protes pada 2018.

“Pengalaman saya kali ini berbeda. Situasinya sangat sulit. Ada risiko besar pergi ke tempat-tempat yang dibom tanpa mengetahui apakah pemboman telah berhenti atau tidak,” ucap jurnalis foto yang karyanya telah dterbitkan di Al Jazeera EnglishNew York Times dan sejumlah lembaga internasional lainnya.

“Serangan udara Israel memengaruhi segalanya, menara, bangunan tempat tinggal, jalan, rumah, bahkan kantor kantor berita internasional,” sebutnya.

“Saya memiliki banyak ketakutan, terutama tentang keluarga saya. Saya mencuri beberapa jam untuk pergi dan melihat mereka dan kembali ke lapangan. Ini adalah pajak pekerjaan kita. Kami harus menghadapi bahaya dari setiap serangan Israel,” ungkapnya.

Baca Juga  Ketua DPD RI Apresiasi Inovasi BUMDes Batu Merah Ambon

Samar Abu Elouf

Samar Abu Elouf bekerja dari pagi hingga sore untuk meliput berita terbaru di Gaza. Dia adalah seorang jurnalis foto lepas, yang bekerja di New York Times dan kantor berita.

“Liputan dari serangan ini jauh lebih sulit dari sebelumnya. Pengeboman ada di mana-mana, dan jenis senjata yang digunakan berbeda-beda,” kata fotografer berusia 33 tahun itu.

Abu Elouf, seorang ibu dari empat anak ini mengatakan bahwa meninggalkan anak-anaknya adalah “titik lemah”-nya.

“Ini sungguh berat untuk meninggalkan anak Anda sendiri, ketika mereka sangat ketakutan atas suara bom yang keras di sekitar mereka,” ungkapnya.

Beberapa hari yang lalu, Abu Elouf dan keluarganya mengevakuasi rumah mereka, setelah rudal Israel menghantam rumah tetangga mereka.

“Itu adalah saat-saat yang mengerikan. Anak-anak saya menangis dan kami meninggalkan rumah secepat mungkin. Rumah saya rusak parah akibat pemboman itu. Pecahan peluru dari rudal menembus atap,” kata Abu Elouf.

(red/kompas.com)

No More Posts Available.

No more pages to load.