Cerita Para Jurnalis dari Medan Perang Gaza yang Diliputi Ketakutan

oleh -62 views

“Saya berencana untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarga saya. Namun, secara mengejutkan saya disambut oleh serangan dan pemboman besar pada saat kedatangan saya. Itu adalah kejutan besar bagi saya,” ungkap fotografer berusia 32 tahun itu.

“Saya bergabung meliput di lapangan tanpa melihat keluarga saya sendiri,” ujarnya.

Salem telah bekerja sebagai fotografer selama lebih dari 10 tahun. Ia telah meliput 3 perang di Gaza, seperti Great March of Return, serqangkaian protes pada 2018.

“Pengalaman saya kali ini berbeda. Situasinya sangat sulit. Ada risiko besar pergi ke tempat-tempat yang dibom tanpa mengetahui apakah pemboman telah berhenti atau tidak,” ucap jurnalis foto yang karyanya telah dterbitkan di Al Jazeera EnglishNew York Times dan sejumlah lembaga internasional lainnya.

“Serangan udara Israel memengaruhi segalanya, menara, bangunan tempat tinggal, jalan, rumah, bahkan kantor kantor berita internasional,” sebutnya.

Baca Juga  Kisah Abdullah bin Al-Mubarak: Tidak Berhaji namun Menerima Predikat Haji Mabrur

“Saya memiliki banyak ketakutan, terutama tentang keluarga saya. Saya mencuri beberapa jam untuk pergi dan melihat mereka dan kembali ke lapangan. Ini adalah pajak pekerjaan kita. Kami harus menghadapi bahaya dari setiap serangan Israel,” ungkapnya.

Samar Abu Elouf

Samar Abu Elouf bekerja dari pagi hingga sore untuk meliput berita terbaru di Gaza. Dia adalah seorang jurnalis foto lepas, yang bekerja di New York Times dan kantor berita.