Aku Cemburu Pada Pintu Rumahmu yang Selalu Setia Saat Menunggumu

oleh -46 views
Link Banner

Cerpen Karya: Ronaldus Heldaganas

Sore menyapa di sudut kota seribu Gereja. Panas dikubur oleh hadirnya angin di kota dingin itu.
Di bilik tirai jendela aku menatap wajah seorang dara. Wajah yang selalu saja memberi warna di setiap panorama senja. Ia selalu setia menemani jendela dan pintu rumahnya.

Di bilik tirai itu terlihat cangkir bermotif batik, sangat bening untuk sisi luarnya. Ia setia dengan bibirmu, tak pernah mengadu dengan segala sesuatunya. Kau pun dengan sungguh mencicipinya bahkan ia tak luput dari ciuman bibirmu itu.

Sore yang tadinya bersama senja, kini ditelan malam penuh kegelapan. Wajahmu pun perlahan sayup, menghilang dari tirai rumahmu. Dan mungkin itu hanya pintasan khayalku saja, karena rumah kita berjauhan.
Aku hanya berharap kita dapat menyeberangi malam bersama mimpi-mimpinya.

Di pagi yang cerah, di gedung lantai 5 kampus Unika. Terlihat engkau sedang duduk bersantai bersama kawanmu. Suara-suara didendangkan di sana, canda tawa kalian mengisi kekosongan waktu.

Tak sungkan aku memberanikan diri menyapamu, ditengah keriangan keramaian bercampur kebahagiaan.
“Hay… Nes!”
“Hay… Kak Onald!”
“Kalian tidak kuliah?”
“Kuliah kak, hanya masih jam istirahat!”
“Oh… Baiklah, saya pulang duluan ya!”

Melangkah ke arah lift, lalu masuk dan turun ke lantai 1.
Karena tak ada kegiatan lagi di kampus, maka saya bergegas pulang ke rumah.

Sebagai seorang mahasiswa yang punya kesibukan khusus di kampus memang lumayan tidak mudah. Akan tetapi, saya sedikit bangga karena terlibat di organisasi intra kampus.

Semenjak bergabung bersama Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia (HMPS PBSI) saya melihat wajah dan senyumanmu itu, untuk pertama kalinya. Bukan lagi khayalan, namun ini sudah jadi kenyataan.
Kadang aku tak luput dari kata melamun, karena terpikat melihat rupamu itu.

Jauh perjalanan yang Aku tempuh bersama sisa-sisa detik dari menit jarum waktu. Tak terasa awal yang tadinya hanya mengenal, perlahan mulai tumbuhnya tunas baru. Tunas sebuah perasaan, yang tak mampu ditahan. Namun, hanya bisa dikurung dalam ruang dan waktu.

Waktu itu, jam makan siang sudah berlalu. Jarum waktu mulai menunjukkan pukul 13:10. Tiba-tiba notif terpajang di bilah sisi atas handphoneku. Aku berpikir itu hanyalah notif Telkomsel, yang setiap harinya menagih pulsa pinjamanku. Namun ternyata itu kabar darimu. Dan yang engkau kirim bukanlah tulisan maupun catatan. Akan tetapi, itu adalah selembar foto dengan ukuran yang lumayan besar sesuai ukuran layar hanphoneku.

“Dia mengirimkan Foto…!” Fotonya di kampus.
“Nes masih kuliah ke?”
“Iya kak. Kalau kakaknya bagaimana?”
“Tidak ada lagi em. Semester ini Mata kuliah dikonversi karena saya mengikuti kegiatan magang Jurnalistik Nes!”
“Maaf kak, saya terlalu banyak bertanya.”
“Tidak apa-apa Nes. Tetapi sekali saya bertanya nanti, pasti Enu hanya bisa diam. Hehehe”
“Pertanyaan apa kak?”
“Mungkin lebih ke arah yang, ya…” Merasa malu untuk menyatakan segalanya.
“Eh.. pertanyaan apa sih kak Onal.”
“Maaf em. Nesa su ada pacar kah?”
“Tidak ada kak.”

“Kalau boleh jujur sih. Semenjak saya mengenal ite di HMPS, awalnya saya merasa semuanya biasa saja. Namun, semakin kesini saya mulai menyukai ite secara diam-diam.”
“Waduh. Terima kasih sudah menyukai saya secara diam-diam, kak. Tetapi, untuk sekarang masih penuh pertimbangan kak. Karena kalau boleh jujur, saya beberapa bulan lalu baru putus dengan saya punya pacar.”
“Baiklah. Saya juga prinsipnya tidak memaksa Nes. Kalau Nesa sudah siap, kabar saja ya.”

Setelah itu, saya merasa tidak ada lagi yang perlu dibahas. Lalu saya berniat untuk tidak bermain handphone lagi. Tetapi di tengah keresahan, engkau menyapa dengan topik pengalihan dari pembahasan pertama.

“Kak Sudah buat Puisi kah?” ujarnya.
“Tidak ada Puisi lagi untuk sekarang. Saya lagi fokus magang jurnalistik, Nes.”

Waktu untuk berbincang pun selesai. Dan semenjak saat itu Aku belajar dari pintu rumahmu. Pintu yang selalu setia menunggu kehadiranmu. Andaikan aku jadi pintunya, mungkin Aku akan setia menunggu kehadiranmu. Namun, jika menunggumu adalah tugas yang tak kunjung usai. Jujur saja, Aku menyimpan rasa cemburu pada Pintu rumahmu yang tak pernah lelah menunggu.

Selesai…!

*Ronaldus Heldaganas merupakan Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.

No More Posts Available.

No more pages to load.