Citra satelit yang dianalisis oleh CNN mengonfirmasi bahwa buldoser aktif di wilayah tersebut selama dan setelah insiden. Tim pertahanan sipil Gaza mengonfirmasi bahwa banyak jasad tidak pernah ditemukan karena serangan Israel yang terus berlanjut.
Militer Israel telah membantah sengaja menggunakan buldoser untuk mengubur jenazah, mengeklaim bahwa buldoser tersebut digunakan untuk keperluan operasional rutin.
Namun, para whistleblower dari internal militer memberikan keterangan yang menguatkan tentang penggunaan buldoser untuk membuang jenazah di tempat lain di Gaza, termasuk di dekat Koridor Netzarim.
Seorang mantan tentara Israel mengatakan kepada CNN bahwa unitnya menguburkan sembilan warga Palestina tak bersenjata tanpa menandai kuburan atau mengambil foto untuk identifikasi. “Bau mayat yang membusuk semakin menyengat saat anjing-anjing mengais-ngais sisa-sisa jenazah,” katanya kepada CNN.
Menurut Konvensi Jenewa, penganiayaan yang disengaja terhadap jenazah, termasuk menguburkannya tanpa identitas, dapat merupakan “pelanggaran terhadap martabat pribadi”, yang diklasifikasikan sebagai kejahatan perang.
Janina Dill, salah satu direktur Oxford Institute for Ethics, Law and Armed Conflict, mengatakan praktik tersebut dapat melanggar kewajiban untuk memungkinkan identifikasi dan pemakaman jenazah yang bermartabat.










