Ishak menambahkan, Kota Tidore tidak mengantungkan pergerakan yang signitifkan dalam mengantisipasi sektor pertambangan. Oleh sebab itu, para pelaku UMKM dan pengambil kebijakan di daerah harus mempertimbangkan situasi ini ke depan secara baik.
“Kalaupun sektor basis kita tidak perkuat dari sekarang, maka kita akan tertinggal jauh dan semakin sulit kita,” kata dia.
“Di sektor parawisata, masyarakat Tidore memiliki daya beli yang rendah sehingga seolah-olah ruang bagi pengembangan UMKM tidak memiliki prospek. Kalau kita mengembangkan pasar, harus melihat pasar secara luas,” ucapnya.
Berkaitan dengan pengembangan sektor pertanian yang dikelola secara UMKM, dirinya akan memberikan bantuan kepada pelaku UMKM di Kota Tidore Kepulauan, sebagai tindak lanjut dari pembahasan saat ini.
Rektor Universitas Nuku Idris Sudin mencoba memberi penguatan dan penguasaan di bidang teknologi yang tidak saja tataniaga, namun mengendepankan aspek promosi dari awal.
“Pemerintah hanya siap melakukan segmentasi keputusan yang membuat orang cenderung terpetak-petak berdasarkan ego sektoral. Ini yang perlu diubah,” ungkapnya.
Idris bilang, sejauh mata memandang, orang berfikir dalam mengembangkan ekonomi kreatif, basisnya hanya pariwisata. Sementara, aspek home industri basisnya adalah pengembangan UMKM yang berada di Perindagkop. Dan itu berdampak pada pengambil kebijakan di level daerah yang terjabak pada masuknya sistem politik anggaran yang tidak konstruktif.




