Dari Mel di Kei ke Remah-remah di Ambalau

oleh -4 Dilihat

Kalau sekiranya visi-misi-program salah satu pasangan gubernur yang resmi diusung parpol unggul dari yang lain termasuk calon gubernur bayangan, saya berharap pasangan kandidat dengan visi-misi-program terbaik itulah yang kemudian dipilih masyarakat. Tetapi sekiranya visi-misi-program kandidat gubernur bayangan yang terbaik, rakyat yang bersetuju dengan saya akhirnya memutuskan untuk pergi ke kebun atau pergi mengail daripada ke TPS memilih “kucing dalam karung”.

Saya rasa exercise calon gubernur ini penting untuk menjadi pelajaran baik bagi para incumbent kepala daerah dan wakil kepala daerah di Maluku sebab seperti saya kemukakan beberapa saat lalu, ternyata produk demokrasi yang jalankan dalam pilkada atau pileg di Maluku benar-benar aneh.

Baca Juga  HUT ke-451 Kota Ambon, Gubernur Lewerissa Serukan Ambon Bersih Luar-Dalam

Kita memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah termasuk anggota DPR, DPD, dan DPRD bukan untuk menangani problem kejelataan di Maluku. Tetapi kita memilih mereka untuk mengurus diri mereka, keluarga dan konco-konco mereka.

Dengan kata lain, produk demokrasi di Maluku adalah terpilihnya kaum hedonis yang menggunakan sarung tangan otoritarianisme dalam mengelola kehidupan publik di Maluku.

Kemarin saya berharap issu “kemiskinan ekstrim” yang disampaikan Wakil Presiden bisa menyadarkan pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota merasa risih dan malu sembari menjadikan issu kemiskinan ekstrim itu sebagai agenda prioritas pemerintahan daerah. Ternyata issu itu berlalu begitu saja.

No More Posts Available.

No more pages to load.