Oleh: Made Supriatma, Peneliti, jurnalis lepas dan visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Hari ini kita mendengar keracunan MBG. Kali ini terjadi di Sidoarjo. Ada ribuan murid dari 19 sekolah, salah satunya adalah pesantren, keracunan makanan. Lama kelamaan ini menjadi rutin.
Program yang dimaksudkan oleh pemerintahan Prabowo sebagai pemenuhan kesejahteraan rakyat ini seringkali berujung bencana. Padahal, hal yang sama tidak terjadi di program-program yang lain. Bahkan ada yang mempertanyakan, mengapa makanan di penjara tidak pernah menimbulkan kasus keracunan? Kita tidak tahu kondisi yang sebenarnya. Mungkin saja ada yang keracunan di penjara tapi kita tidak tahu.
Anda tahu bahwa lembaga yang mengelola MBG, Badan Gizi Nasional (BGN), sedang mengalami krisis. Orang yang bertanggungjawab mendesain program MBG ini dan sekaligus menjadi ketua BGN pertama, Dadan Hindayana, akhirnya terjerat kasus korupsi dan harus mundur dari posisinya.
Dadan digantikan oleh seorang loyalis Prabowo, Nanik S. Deyang. Namun ia hanya menjabat selama enam minggu. Nanik mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Kita tidak tahu alasan sesungguhnya. Namun seperti Dadan, Nanik juga bukan seorang ahli gizi.









