Jadi seperti saya katakan tadi bahwa model pembangunan yang berbasis kultural terbaik saat ini hanya ada di Maluku Tenggara. Karena itu saya begitu yakin bahwa kesulitan sumberdaya alam lokal tak akan pernah menjadi halangan yang berarti untuk membangun daerah ini.
Tiga pasangan bupati terakhir di Maluku Tenggara — Koedoeboen, Rentanubun, dan Hanubun — mengeja apa yang oleh para ahli pembangunan disebut “proyek menyusun batu bata bangunan”. Artinya raihan prestasi sejak Pak Koedoeboen kemudian dilanjutkan Pak Rentanubun untuk seterusnya dilanjutkan dan terus disempurnakan Pak Hanubun.
Katakan saja pada pilkada 2024 yang akan datang pasangan lain yang terpilih menggantikan Pak Hanubun, akumulasi yang dicapai akan dilanjutkan seterusnya. Saya sendiri berharap Pak Hanubun dan Pak Beruatwarin masih akan terpilih lagi. Mengapa?
Saya berharap kepemimpinan mereka bisa menjadi model yang membuat kepala daerah yang lain merasa malu sehingga tidak memaksa diri maju pada pilkada yang datang. Dengan demikian ada role model lokal yang menjadi perhatian publik di Maluku dalam pilkada yang akan datang.
Saya sendiri sedang mempertimbangkan untuk ikut kontestasi pilgub yang akan datang tapi bukan sebagai kandidat resmi. Saya ingin jadi “calon gubernur bayangan”. Jadi sekiranya saya memutuskan untuk absen sebagai calon anggota DPD dan memilih mencalonkan diri sebagai “calon gubernur bayangan”, saya akan segera menyusun visi-misi-program yang kelak saya kampanyekan.










