Darurat Adab

oleh -0 Dilihat

Memasuki era kacau ( disruption era), disorientasi hidup makin banyak sekali. Para politisi dan publik figur menjadi unidentified person (pribadi yang tak dikenal) jatidirinya lagi karena keasliannya telah diganti dengan pencitraan media. Hidupnya dibentuk oleh media. Segala gerak-geriknya ditentukan oleh media dan dia kehilangan fitrahnya sebagai makhluk merdeka.

Agama di era sekarang ini bukan lagi sebuah comprehensive commitment tapi sekedar sesuatu yang “diperlukan” ketika dibutuhkan (something to use but not to life), misalnya ketika mau dilantik sebagai pejabat barulah mengangkat sumpah dengan Al-Qur’an atau ketika menjadi jenazah baru mayatnya menyentuh lantai masjid.

Sebagai makhluk bertuhan ( hommo religionum), manusia harus menyadari dirinya sebagai benda hidup yang digerakkan oleh kekuatan yang melampauinya ( beyond belief) kata Bellah.

Baca Juga  Tiga Tahun PAD Kairatu Beach Dipertanyakan, ke Mana 20 Persen Hak Desa? Warga Desak Transparansi

Manusia harus percaya pada kekuatan lain yang rahasia ( mysterium), agung ( tremendum) dan ancaman yang membuatnya tunduk ( fascinasum) ala Rudolf Otto. Satu-satunya cara adalah manusia harus beradab. Karena dengan beradab, manusia mengenal dirinya, alam sekitarnya dan penguasa universal, Allah SWT.

Oleh karena itu, Nabi S.a.w, bersabda “Addabani Rabbiy fa ahsana ta’dîbí” (Tuhanku mengajariku adab membuat aku beradab). Adab identik dengan al-Dîn (agama) yang kemudian menjadi Tamaddun (peradaban). Adab juga identik dengan akhlaq (perilaku hidup) yang seakar kata dengan khâliq(pencipta) dan makhlûq (ciptaan), trisipitas yang membentuk kehidupan.

No More Posts Available.

No more pages to load.