Sepak Bola: Arena Baru Para Oligarki

Sepak bola hari ini bukan lagi sekadar permainan sebelas lawan sebelas. Ia adalah panggung geopolitik baru. Klub-klub menjadi alat soft power para oligarki untuk mengakumulasi simpati, membangun narasi kepahlawanan, dan menjauhkan publik dari fakta-fakta keras di lapangan politik dan ekonomi. Di Maluku Utara, oligarki tambang masuk ke stadion lewat pintu kehormatan.
Apa yang dilakukan David Glen lewat Malut United dapat dibaca sebagai strategi “legitimasi sosial” — mirip seperti yang dilakukan para taipan di kawasan konflik. Dengan membangun klub yang membangkitkan harga diri lokal, ia mendapatkan bukan hanya dukungan, tapi juga pelindung: massa, pejabat daerah, dan loyalitas simbolik dari masyarakat.
Sebagian akademisi menyebut ini sebagai sportwashing — upaya “mencuci” reputasi melalui dunia olahraga. Dalam kasus David, sportwashing beroperasi bersamaan dengan kehadiran PT Mineral Trobos di daerah-daerah sensitif di Halmahera. Tanpa pengawasan publik yang ketat, sepak bola bisa menjadi topeng yang sempurna.
Jalan Panjang Menuju Transparansi
KPK menyatakan belum menutup kemungkinan akan memanggil David kembali. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa penyelidikan akan menyentuh korporasi. Padahal, menurut data SOMASI Jakarta, PT Mineral Trobos tercatat memiliki konsesi seluas ribuan hektar di wilayah konflik, dan namanya muncul dalam daftar 13 IUP bermasalah yang ditelusuri penyidik.









