Distrupsi Politik

oleh -133 views
Link Banner

Oleh: A. Malik Ibrahim, Wakil Ketua DPW Partai NasDem Maluku Utara

Insight. Ada yang sukses, dan pasti tak sedikit yang gagal.

Apa benar fenomena politik kita seperti itu?

Banyak orang gagal paham karena terperangkap dalam cara berpikir lama; bahwa dalam politik membutuhkan modal atau “bido marau” yang banyak.

Kita lalu rame-rame terjebak pada supremasi logika ‘politik kuantitatif’ yang terpresentasikan dari jargon-jargon seperti “popularitas, likeabilitas, elektabilitas, hingga ‘isi tas’”, begitulah manifestasi kehidupan panggung politik kita hari ini.

Oleh karena itu, kita membutuhkan lensa baru untuk meneropong, apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Dan kita semua seperti kecele. Membayangkan — betapa mahalnya politik. Memang, sesekali politik itu kelihatannya menolong, namun juga telah mengerangkeng pola pikir kita.

Pola pikir itu sepertinya telah membatu. Terhipnotis oleh oligarki; yakni banyak orang yang “terkuasai” yang berada dalam perspektif kacamata kuda.

Baca Juga  Kawasan Kudamati tawuran lagi

Platform politik yang serba kemewahan, genit dan snobis sepertinya memberi andil untuk membuat orang lemah, dilemahkan, atau melemahkan diri.

Kita bingung menatap atmosfer politik seperti itu. Suprastruktur politik malah terkonstruksi ke dalam format yang memungkinkan kekuasaan bergerak atas nama dirinya, bukan atas nama publik.

Sebaliknya, infrastruktur politik melemah — dengan politik atasnama rakyat atau sekedar kedaulatannya dipinjam secara cuma-cuma.

Logika “black market political” menjadi ragi yang mendorong gigantisme berfikir seperti ini. Powerful sukses untuk kemunduran sebuah politik gagasan.

Kita lebih suka menjadi politisi yang berteriak sampai serak, namun di dalamnya kita cuma noktah yang tak berarti. Kita semua adalah noktah kecil — yang tak pernah dianggap sebagai determinan kekuasaan.

Baca Juga  Kapolda Maluku Sambangi Polres Tual, Ini yang Dilakukan

Akhirnya, kita semua harus bersiap-siap menghadapi dampak “distrupsi politik”. Lalu, orkestra seperti apa yang harus dimainkan agar tak terancam punah — dan mati dalam kedunguan”. (*)