Porostimur.com, Ternate – Keterlambatan penanganan rujukan pasien di wilayah kepulauan Batang Dua, Hiri, dan Moti (BAHIM) kembali menuai sorotan. Peristiwa ini mencuat setelah seorang pasien rujukan asal Kelurahan Tifure, Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate, diduga kehilangan janin akibat lambatnya proses evakuasi menggunakan ambulans laut.
Sorotan keras datang dari Djaringan Mahasiswa Nuku Maluku Utara (DJAMAN Malut). Mereka menilai Pemerintah Kota Ternate belum menunjukkan keseriusan dalam menangani persoalan layanan kesehatan di wilayah kepulauan.
Kritik Keras untuk Pemkot Ternate
Kepala Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah (PPD) DJAMAN Malut Risman Kaim, menyayangkan lemahnya respons pemerintah terhadap kondisi darurat di wilayah BAHIM.
Ia menegaskan, penanganan rujukan pasien dalam kondisi gawat darurat seharusnya menjadi prioritas utama, terutama di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
“Penanganan cepat rujukan pasien itu wajib menjadi prioritas, apalagi di wilayah kepulauan seperti BAHIM,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Fasilitas Rujukan Dinilai Belum Memadai
Selain itu, M. Zulfan dari DJAMAN Malut menyoroti minimnya fasilitas penunjang layanan kesehatan di wilayah tersebut. Ia menilai keberadaan puskesmas dan sistem rujukan belum berjalan optimal.









