Doa yang Tak Mati di Tepi Laut

oleh -38 views

Dalam setiap gulungan ombak, Gaza menemukan kembali makna hidupnya.

Ombak datang, lalu pergi, seperti luka yang tak kunjung sembuh tapi selalu kembali membawa kehidupan.
Laut menjadi saksi paling setia dari perjalanan manusia yang menolak menyerah. Ketika langit menghitam oleh pesawat tempur, laut tetap biru—biru yang keras kepala, biru yang tak mau mati.

Ada para perempuan yang menunggu di pantai, wajah mereka menatap jauh ke horizon. Mereka tak tahu apakah suami dan anaknya akan pulang. Tapi setiap sore mereka berdiri di tempat yang sama, di pasir yang sama, menatap laut dan berbisik: “Ya Rabb, jagalah mereka.”
Air mata mereka jatuh, menyatu dengan ombak yang datang menepi.

Baca Juga  Bidan Muda di Halut Dilaporkan Hilang, Polisi Terbitkan Laporan Resmi

Begitu setiap hari—seolah doa itu menulis dirinya sendiri di garis air yang tak pernah hilang.

Gaza telah kehilangan tanahnya, tapi tidak lautnya. Meski di bawah pengawasan dan blokade, laut tetap menjadi ruang spiritual: satu-satunya ruang yang masih memungkinkan harapan.
Di sanalah manusia dan Tuhan bertemu tanpa izin siapa pun.

Doa di tepi laut bukanlah doa yang meminta kemenangan, melainkan doa untuk bertahan. Di sanalah mereka belajar arti sabar yang sesungguhnya: sabar yang bukan pasrah, tapi sabar yang menegakkan kepala di tengah badai. “Kami tidak takut mati,” kata seorang nelayan muda, “yang kami takutkan adalah dunia yang berhenti peduli.”

No More Posts Available.

No more pages to load.