Setiap kali perahu kembali, mereka membawa lebih dari sekadar ikan—mereka membawa berita bahwa iman belum mati. Mereka tahu laut bisa menelan tubuh, tapi tidak bisa menelan doa. Karena doa, seperti ombak, selalu kembali. Ia mungkin surut, tapi tak pernah hilang.
Di malam hari, ketika pesisir sunyi, laut berkilau oleh cahaya bulan. Di situ, suara azan dari kamp nelayan berpadu dengan desiran air, menciptakan musik yang hanya bisa lahir dari luka yang beriman. Mungkin inilah wajah sejati dari Gaza: bukan hanya kota yang hancur, tapi jiwa yang tak padam.
Dan ketika dunia bertanya bagaimana Gaza bisa terus hidup, jawabannya ada di tepi laut itu—di jaring-jaring yang tetap dilempar, di perahu-perahu yang tetap melaut, di doa yang tak pernah mati meski suara dunia telah lenyap.
Sebab selama laut masih bergelombang, selama ombak masih menyentuh pasir, selama lidah masih mampu mengucap “Allahu Akbar”, Gaza akan tetap ada.
Dan doa mereka, yang terucap di bawah badai, akan terus naik ke langit—seperti pohon yang tumbuh dari akar penderitaan, sebagaimana Fadwa Tuqan pernah menulis:
“Dari kedalaman badai, pohon itu akan bangkit kembali.” (**)









