Direktur Eksekutif Asosiasi Islam Amerika Utara (IANA), Imam Yusuf Abdulle, mengatakan, dia khawatir kelanjutan serangan pembakaran semacam itu dapat membahayakan nyawa Muslim di Amerika. IANA merupakan lembaga yang mengelola lebih dari 40 masjid di seluruh Amerika.
Selain kejadian 5 Agustus 2017, pengeboman Pusat Islam Dar al-Farooq (DAF) di Bloomington, Minnesota, ia menyebut, kaum Muslim dan pusat-pusat agama telah menyaksikan serangan verbal dan retorika politik anti-Muslim maupun tindakan vandalisme kecil dan semprotan grafiti anti-Muslim.
“Tapi, serangan pembakaran terbaru ini tampaknya menjadi pesan baru bahwa bahaya semakin meningkat,” kata Abdulle.
Serangan terbaru juga terjadi beberapa minggu setelah Walikota Minneapolis, Jacob Frey, secara resmi menandatangani peraturan yang memungkinkan masjid-masjid di seluruh kota menyiarkan azan lima kali sehari. Keputusan ini dibuat mengikuti permintaan dari masyarakat dan para imam.
Dalam sebuah wawancara dengan VOA, mantan direktur IANA Sh Hassan Dhooye mengatakan, mereka yang berada di belakang penyerangan masjid merasa tidak senang dengan undang-undang tersebut.
“Tahukah Anda, untuk pertama kalinya sebuah kota di Amerika mengizinkan komunitas Muslimnya menyiarkan azan. Bagi kami, itu bersejarah. Bagi mereka yang menentang kami, itu adalah kemarahan. Saya pikir serangan terbaru ini bisa menjadi jawaban untuk itu,” ujar dia.




