Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke Tulehu, menyebrang ke Pulau Seram. Di pelabuhan, mereka membeli air mineral dan keripik sebagai cemilan untuk perjalanan di dalam kapal. Seorang ibu tersenyum, dagangannya laku. Firdaus membeli rokok di kios sederhana. Si bapak pemilik kios mengangguk bahagia. Dua bungkus terjual tanpa perlu memanggil.
Sampai di Pelabuhan Amahai, ada lagi sopir yang tersenyum. Setidaknya ada beras dan lauk di meja makan malam nanti.
Lalu malam itu di Masohi, dua kamar terisi. Pemilik penginapan bisa tidur tenang, ada pemasukan hari ini. Esoknya, pasar menyambut riuh. Mama-mama menjual beras, mie, telur, gula, kopi. Mereka membeli dalam jumlah banyak, karena Binaiya bukan sekadar pendakian. Binaiya adalah perjalanan panjang yang memerlukan bekal. Dan di balik setiap belanja itu, ada senyum dan ucap syukur.
Perjalanan dilanjutkan. Mobil disewa menuju Tehoru. Sopir lokal bahagia, mobilnya kembali berguna. Sebelum itu, di Balai Taman Manusela, segala urusan administrasi diselesaikan. Negara pun mencatat pemasukan. Pendapatan Negara Bukan Pajak.
Sampai akhirnya mereka tiba di Piliana. Di sanalah perjalanan ke langit dimulai. Acara adat digelar. Tim memberikan sumbangan sebagai bentuk hormat. Pemuda-pemuda kampung menemani perjalanan. Mereka pun mendapat pemasukan, pengalaman, dan cerita yang kelak bisa diwariskan.








