Gendongan Si Cucu

oleh -30 views
Link Banner

Oleh: Frieda Amran, Anthropolog, penulis dan pemerhati sejarah, bermukim di Belanda

Si Cucu semakin berat. Umurnya kini 6 bulan, berat badannya 7,7 kg. Dari sejak ia belum lahir, aku sudah membayangkan bagaimana caranya Nenek mengasuh cucu sambil terus bekerja. Sobatku, Lies Marcoes, memberikan contoh di salah sebuah fotonya. Ia menggendong cucu sambil mengetik terus di laptopnya (lihat foto).

Ada dua hal yang dituntut untuk mengasuh cucu dengan gaya Lies. Pertama, cucu itu harus mau diam atau tidur di dalam gendongan dan kedua, si Nenek harus menguasai teknik menggendong. Naaaaah … masalah pertama muncul segera. Si Cucu tak mau diam. Ia tak mau tidur di dalam gendongan kain. Masalah kedua muncul bahkan sebelum Si Cucu akan digendong. Aku tak tahu bagaimana teknik ika-ikat kain untuk membuat gendongan yang nyaman!

Kok bisa begitu? Begini. Adikku hanya satu. Ketika ia lahir, aku berumur 3,5 tahun. Aku kecil dan kurus. Tak mungkinlah aku menggendongnya. Lagipula, Ayah dan Ibuku mempunyai kebiasaan mengajak ponakan mereka untuk tinggal di rumah agar dapat melanjutkan sekolah di Palembang. Karena itu, rumah kami selalu saja ramai dengan kerabat-kerabat berbahu bidang yang dapat menggendong adikku. Akibatnya, aku tak pernah belajar mengikat kain untuk menggendong siapa pun.

Link Banner

Lebih parah lagi, ketika aku sendiri beranak, sementara Ibu, yang datang mengasuh setiap anakku yang baru lahir dengan menggunakan kain gendongan bila perlu, aku sendiri sok Blandis dan memilih gendongan Belanda yang kurasakan lebih praktis: semacam tas ransel khusus untuk menggendong bayi.

Baca Juga  Dua Warganya Jadi Pasien Covid-19, Ini Cara Pemdes Hoku-Hoku Kie Menyemangati

Nah, sekarang aku bercucu. Dan aku kepingin menggendong dengan kain. Bagaimana caranya? Kain di rumah diuwel-uwel, ujung-ujungnya diikatkan, …eh, kepanjangan. Sang Cucu tergantung di bawah pinggang. Harus dinaikkan tapi simpul yang kubuat tak dapat digeser-geser. Masalah deh.
Untung ada mbah Google dan youtube. Rupanya, kain gendongan harus diikat dengan simpul jangkar😳 Terpaksalah belajar–dari youtube–membuat simpul jangkar.

Ketika Cucu datang, dan kebetulan mewek, dengan gaya jagoan aku menceburkannya ke dalam kain gendongan yang sudah diikat dengan simpul jangkar yang sempurna. Tinggal tarik ujung yang satu supaya gendongan itu memendek dan bayinya naik sampai kepalanya ada di dadaku. Jelas kan?

Apa daya. Sementara aku sibuk menarik-narik ujung kain, Si Cucu yang tadinya mewek dikit kini menjadi tak sabar dan mulai meronta-ronta. Ujung kain membelit kaki-kakinya dan tangannya hilang entah ke mana. 😳 Waduuuuh … untung Emaknya si Cucu tak ada, pikirku. Aku mulai berkeringat padahal di luar cuaca masih dingin. Cucu pun berkeringat dan mukanya memerah karena murka.

“Ada gendongan yang praktis sekali,” kata Si Sulung. “Ngga usah pake simpul jangkar segala.”

Ia datang membawa kain yang puanjaaaaaaang sekali. Kira-kira lima meter. Memakainya begini: bagian tengah kain itu ditempelkan di perut; ujungnya ikat di punggung. Kedua ujungnya itu disilang di punggung, tarik ke depan dan selipkan di bawah bagian yang sudah melilit di perut. Ambil Si Cucu. Kedua kakinya diselipkan di bawah kain yang sudah terselempang di perut, lalu selempang-selempang kain itu diatur di punggung Si Cucu. Lalu, ujung kain diselipkan dan diikat di bawah pantatnya supaya dia duduknya enak. Ujung kain yang masih tersisa, ikatkan lagi di punggung si Nenek.

Baca Juga  Lawan Hoaks Covid-19: Japelidi Kampanye dalam 42 Bahasa Daerah

Mudah kan? Hadeuuuuuh … Matek deh.

“Sambil duduk aja,” kata si Sulung sok tau. “… supaya anakku ngga jatuh!” (Si Mantu mengernyitkan alis. Tubuhnya tampak tegang. Mungkin karena takut anaknya jatuh di lantai!).

Tetapi, saking panjangnya kain itu dan aku duduk, ujung-ujungnya susah dililitkan ke punggung. Aku berdiri. Satu tangan memegang punggung si Cucu, tangan satu lagi mencari-cari ujung kain. Yaelaaaa … keserimpet di kakiku sendiri! Cucu mulai mewek. Aku mulai berkeringat. Heran juga, kenapa di youtube ibu-ibu muda itu bisa santai betul melilitkan kain itu??!

Si Sulung membeli lagi kain gendongan model lain. Yang ini dengan sistem yang agak mirip dengan gendongan Indonesia. Bedanya, sebagai pengganti simpul jangkar, dua buah gelang logam diikatkan di salah satu ujung kain. Ujung satu lagi harus diselipkan di antara kedua gelang itu sehingga terkunci, tetapi masih bisa digeser-geser supaya si bayi duduknya pas di badan orang yang menggendong. Praktis. Warnanya pun yang biru toska sangat kusukai.

Si Cucu senang dengan gendongan ini. Tetapi itu hanya sesaat. Beberapa minggu kemudian, ketika ia sudah bisa mengangkat kepala dan matanya sudah bisa tajam memperhatikan dunia, ia tak mau lagi digendong seperti ‘bayi’ dengan wajah dan badan yang menempel di dada Nenek. Ia mau dan harus melihat dunia! Kalau terlalu lama di gendongan itu, ia meronta-ronta. Badannya seperti cacing kepanasan yang ingin melepaskan diri dari belenggu biru toska.

Baca Juga  Jelang Nataru, Stok Bahan Pokok di Maluku Utara Aman

Aku penasaran. Berjam-jam aku berselancar di internet. Mengherankan betul. Bayi-bayi di youtube kulihat tenang-tenang semua di dalam gendongan. Kok Si Cucu sok peduli lingkungan siiih??!

Begitu banyaknya video tentang gendongan. Luar biasa. Aku sampai terkantuk-kantuk melihatnya. Lalu, mataku mendadak melek. Di layar laptop, tampak perempuan muda sedang menunjukkan dua lembar t-shirt. Lalu, kedua t-shirt itu diguntingnya di bawah lengannya. Kedua potongan itu diikatnya dan kemudian dikalungkannya di lehernya seperti memakai sjaal. Tarik sini tarik sana, ambil bayi, cemplungkan di dalamnya! Beres. Murah meriah dan praktis.

Keesokan harinya, ketika Cucu datang, ia kucemplungkan di gendongan daur ulang t-shirt. Punggungnya menempel di dada dan perut. Awalnya ia melenguh-lenguh. Biasalah. Ogah kakinya dibengkok-bengkokkan. Tetapi setelah mantap terbelenggu, ia tak lagi ribut. Kepalanya berputar-putar ke kiri ke kanan ke atas ke bawah. Ia bisa melihat dunia!

Si Cucu puas. Si Nenek puas. (cuma Emaknya saja yang agak ribut karena t-shirt yang ku-daur-ulang terlalu besar sehingga si Cucu tergantung terlalu rendah 😃).

Mantu juga agak ribut.
“Ibu, sepertinya gendongannya kurang kokoh … nanti anakku jatuh!” Ia melirik isterinya. “Itu Ibu kamu menggendong anak kita begitu!!”

Kataku: “Kau boleh pilih. Si Cucu digendong model begini–ntar dibetulin lagi deh!–atau digendong pake gendongan Dayak! Mau yang mana?”

Si Sulung dan Mantu (terpaksa) memilih gendongan daur-ulang T-shirt. 😄 (*)