Gendongan Si Cucu

oleh -44 views

Oleh: Frieda Amran, Anthropolog, penulis dan pemerhati sejarah, bermukim di Belanda

Si Cucu semakin berat. Umurnya kini 6 bulan, berat badannya 7,7 kg. Dari sejak ia belum lahir, aku sudah membayangkan bagaimana caranya Nenek mengasuh cucu sambil terus bekerja. Sobatku, Lies Marcoes, memberikan contoh di salah sebuah fotonya. Ia menggendong cucu sambil mengetik terus di laptopnya (lihat foto).

Ada dua hal yang dituntut untuk mengasuh cucu dengan gaya Lies. Pertama, cucu itu harus mau diam atau tidur di dalam gendongan dan kedua, si Nenek harus menguasai teknik menggendong. Naaaaah … masalah pertama muncul segera. Si Cucu tak mau diam. Ia tak mau tidur di dalam gendongan kain. Masalah kedua muncul bahkan sebelum Si Cucu akan digendong. Aku tak tahu bagaimana teknik ika-ikat kain untuk membuat gendongan yang nyaman!

Baca Juga  Formapas Malut Desak ESDM Tolak RKAB PT Adidaya Tangguh di Taliabu

Kok bisa begitu? Begini. Adikku hanya satu. Ketika ia lahir, aku berumur 3,5 tahun. Aku kecil dan kurus. Tak mungkinlah aku menggendongnya. Lagipula, Ayah dan Ibuku mempunyai kebiasaan mengajak ponakan mereka untuk tinggal di rumah agar dapat melanjutkan sekolah di Palembang. Karena itu, rumah kami selalu saja ramai dengan kerabat-kerabat berbahu bidang yang dapat menggendong adikku. Akibatnya, aku tak pernah belajar mengikat kain untuk menggendong siapa pun.