Lebih parah lagi, ketika aku sendiri beranak, sementara Ibu, yang datang mengasuh setiap anakku yang baru lahir dengan menggunakan kain gendongan bila perlu, aku sendiri sok Blandis dan memilih gendongan Belanda yang kurasakan lebih praktis: semacam tas ransel khusus untuk menggendong bayi.
Nah, sekarang aku bercucu. Dan aku kepingin menggendong dengan kain. Bagaimana caranya? Kain di rumah diuwel-uwel, ujung-ujungnya diikatkan, …eh, kepanjangan. Sang Cucu tergantung di bawah pinggang. Harus dinaikkan tapi simpul yang kubuat tak dapat digeser-geser. Masalah deh.
Untung ada mbah Google dan youtube. Rupanya, kain gendongan harus diikat dengan simpul jangkar😳 Terpaksalah belajar–dari youtube–membuat simpul jangkar.
Ketika Cucu datang, dan kebetulan mewek, dengan gaya jagoan aku menceburkannya ke dalam kain gendongan yang sudah diikat dengan simpul jangkar yang sempurna. Tinggal tarik ujung yang satu supaya gendongan itu memendek dan bayinya naik sampai kepalanya ada di dadaku. Jelas kan?
Apa daya. Sementara aku sibuk menarik-narik ujung kain, Si Cucu yang tadinya mewek dikit kini menjadi tak sabar dan mulai meronta-ronta. Ujung kain membelit kaki-kakinya dan tangannya hilang entah ke mana. 😳 Waduuuuh … untung Emaknya si Cucu tak ada, pikirku. Aku mulai berkeringat padahal di luar cuaca masih dingin. Cucu pun berkeringat dan mukanya memerah karena murka.




