GMPG: Jebloknya Elektabilitas Airlangga Berdampak Sistemik

oleh -45 views
Link Banner

Porostimur.com, Jakarta – Gerakan Muda Partai Golkar (GMPG) mengkritisi rendahnya elektabilitas Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto sebagai calon presiden (capres) di Pilpres 2024 mendatang. Termasuk turunnya ranking Partai Golkar di sejumlah lembaga survey.

Inisiator GMPG ‎Sirajuddin Abdul Wahab mengatakan, elektabilitas Airlangga Hartarto sangatlah memprihatinkan. Hal ini merujuk dari data survey Voxpol Center yang menyebutkan Airlangga Hartarto hanya mendapatkan 0,8 persen. Sementara di Indikator Politik Indonesia sebesar 0,2 persen.

“Selain elektabilitas yang defisit, hal ini diperparah dengan elektabilitas ketua umum yang diusung menjadi capres yang memprihatinkan dan memalukan,” ujar Sirajuddin dalam jumpa pers di kawasan Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (13/1/2022).

Karena itu, lanjut Sirajuddin, buruknya elektabilitas Airlangga Hartarto ini berdampak secara sistematik dan epistemik terhadap citra Partai Golkar. Padahal struktur partai dan anggota DPR dari Golkar sudah menebar baliho terhadap Airlangga.

“Namun hal itu faktanya tidak memberi dampak signifikan, hal ini dapat dianggap bahwa masyarakat tidak tergerak memberikan dukungan, jika ada kenaikan maka kenaikan itu dapat dipastikan sebagai angka yang perlu dipertanyakan sumber dan kridebilitasnya,” katanya.

Baca Juga  Permada Tumalehu Barat Gelar Musyawarah

Sirajuddin juga menuturkan, kondisi ini telah mendevaluasi eksistensi partai di tengah kompetisi elektorasi antar partai, dan Golkar tidak kuat lagi sebagai partai yang terus melahirkan pemimpin-pemimpin muda.

“Tidak lagi melahirkan pemimpin muda, pemimpin daerah yang inovatif, melayani rakyat dan selalu mendengarkan aspirasi dari bawah, melainkan hanya cenderung sebagai alat legitimasi para segelintir penguasa,” ungkapnya.

Bahkan menurut Sirajuddin, Airlangga juga gagal membawa perubahan signifikan terhadap perolehan suara Partai Golkar di 2019 lalu.

“Karena di Pemilu 2019 hanya sebesar 12,31 persen (85 kursi) mengalami penurunan dibandingkan dengan Pemilu 2014 dengan perolehan 14,75 persen (91 kursi) dan Pemilu 2009 sebesar 14,45 persen (107 kursi),” tuturnya.

Baca Juga  DPRD Ambon Gelar Uji Publik Tiga Ranpeda

Lebih lanjut Sirajuddin juga menilai, mesin Partai Golkar saat ini tidak berjalan maksimal dan tidak dikelola dengan benar. Ini diperparah dengan proses pembangian dan kerja bidang-bidang yang tidak sesuai dengan tupoksi yang profesional.

“Hal ini mengakibatkan absennya penyelenggaraan program kerakyatan Partai Golkar di masyarakat, padahal itu merupakan bagian langkah memperbaiki citra partai di mata publik,” tuturnya.

“Hal ini mengakibatkan absennya penyelenggaraan program kerakyatan Partai Golkar di masyarakat, padahal itu merupakan bagian langkah memperbaiki citra partai di mata publik,” tuturnya.

Karena itu, GMPG mengimbau Ketua Dewan Pakar dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar di akhir tahun 2021 yang meminta kepada kader untuk menjaga soliditas, persatuan dan kesatuan serta membangun sinergitas, telah mengisyaratkan kondisi partai saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Baca Juga  Kepala Bappenas Buka Konsultasi Regional Penyusunan Rancangan Awal RPJMN 2020-2024

“Isyarat ini merupakan sinyal bahwa secara internal partai dalam kondisi rentan perpecahan dan konflik, sebab polarisasi masih tetap ada walaupun tidak mengemuka,” pungkasnya. (red/jpnn)