Sementara itu, PDIP memiliki basis pilihan yang juga cukup kuat. Sebanyak 19,6 persen responden memilih partai tersebut karena sudah memilih sejak dulu. Sebanyak 8,2 persen menilai tokoh partainya bagus dan 8,2 persen lainnya menyebut pilihan masyarakat sekitar.
Menurut Adi, pola tersebut dapat dikaitkan dengan basis pemilih PDIP yang relatif kokoh dan memiliki keterikatan politik sejak lama.
PKB dipilih antara lain karena dianggap sebagai partainya Nahdlatul Ulama (NU) sebesar 10,9 persen. Faktor pilihan masyarakat sekitar mencapai 10,1 persen, sementara faktor anak muda sebesar 9,3 persen.
Untuk Partai Demokrat, alasan pemilih antara lain karena sudah memilih sejak dulu sebesar 10,7 persen, pernah memberikan bantuan 9,5 persen, serta menyukai dan menilai partainya bagus sebesar 8,3 persen.
Sedangkan PKS dipilih terutama karena dianggap sebagai partai Islam atau religius sebesar 18,6 persen. Berikutnya, kinerja yang dirasakan atau terbukti sebesar 9,8 persen dan dinilai merakyat sebesar 7,8 persen.
NasDem memiliki tiga alasan utama berupa kinerja yang dirasakan atau terbukti sebesar 10,7 persen, tokoh partainya bagus 10,7 persen, serta merakyat 8,3 persen.
Sementara PAN dipilih karena kinerja yang dirasakan atau terbukti sebesar 11,7 persen, tokoh partainya bagus 10 persen, dan faktor keterkaitan dengan Muhammadiyah sebesar 9,5 persen.










