Swadaya Warga Bangun Jembatan Darurat
Egidius menjelaskan, berbagai elemen masyarakat telah berulang kali menyuarakan aspirasi, mulai dari tokoh pemuda, tokoh masyarakat hingga tokoh agama. Namun, tidak ada respons konkret dari Pemerintah Provinsi Maluku.
“Setelah menunggu hampir 10 bulan dan tidak ada perhatian, warga akhirnya berinisiatif membangun jembatan darurat secara swadaya,” katanya.
Pengerjaan jembatan darurat tersebut dilakukan secara gotong royong selama kurang lebih tiga hari. Saat ini, jembatan sudah dapat digunakan, meski hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda dua.
“Sejak awal bulan jembatan sudah bisa digunakan. Tarif penyeberangan Rp5 ribu, tapi tidak dipaksakan kalau warga tidak punya uang,” jelasnya.
Harapan agar Janji Pemerintah Direalisasikan
Setiap hari, ratusan kendaraan roda dua dilaporkan melintasi jembatan darurat tersebut. Warga juga bergantian menjaga fasilitas penyeberangan demi keselamatan bersama.
Meski demikian, Egidius menegaskan bahwa jembatan darurat bukan solusi jangka panjang. Ia berharap Pemerintah Provinsi Maluku segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen sesuai janji yang pernah disampaikan.
“Pak Gubernur jangan hanya bicara saja. Katanya akan disegerakan, tapi sampai hari ini belum ada kejelasan. Harapannya supaya dipercepat,” pungkasnya. (Vera Renyaan)









